Kehangatan yang dia berikan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga tindakan sehari-hari. Abang Rahman memiliki kebiasaan unik yang mencerminkan jiwanya yang penuh kebersamaan. Dia tidak pernah makan sendirian, meski sesibuk apa pun. dia selalu mengajak kami untuk makan bersama, menjadikan momen makan sebagai ajang kebersamaan yang penuh canda dan tawa. Tidurnya pun sederhana, melantai bersama kami meski ada tempat tidur yang telah kami siapkan khusus untuknya sebagai bentuk penghormatan pada dia. Sikap rendah hatinya membuat kami semua merasa dihargai, tidak ada yang diperlakukan berbeda semua sama di matanya.
Di balik kesederhanaannya, Abang Rahman adalah seorang guru kehidupan. Dia sering mengingatkan kami tentang pentingnya hubungan dengan Allah SWT. “Siapa yang dekat dengan Allah SWT, Allah akan dekat dengannya. Dalam kondisi apa pun, siapa yang senang membantu orang lain, maka Allah juga akan senang membantu dia,” begitu katanya. Pesan-pesannya yang penuh makna terus menjadi pegangan kami dalam menjalani kehidupan. Dia tidak hanya membimbing kami dalam hal pendidikan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual yang kuat, juga kehidupan sosial peduli sama orang lain walaupun diri sendiri susah.
Abang Rahman mengajarkan saya bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang melayani dengan hati. Ia bukan hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi selalu mendahulukan kepentingan orang lain, terutama kami yang tinggal bersamanya. Kehadirannya menjadi cahaya yang menerangi jalan kami, memotivasi kami untuk terus berjuang meski rintangan menghadang. Abang Rahman adalah bukti nyata bahwa cinta, pengorbanan, dan ketulusan memiliki kekuatan untuk mengubah hidup seseorang. Ia bukan sekadar pejuang pendidikan bagi saya, tetapi juga pejuang kehidupan yang sejati.
*Terima kasih untuk Saudara Saya di Rumah Masa Depan*
Saudara Subagusa Rumain, yang tidak kenal lelah menemani saya duduk kerja skripsi sampai tengah malam, menemani saya ke Kampus konsultasi dan mengurus administrasi,
Saudara saya Abdullah Rumaday yang biasa marah-marah saya kalau tidak serius kerja skripsi bahkan ikuti membantu saya dalam mengerjakan skripsi saya.
Saudari saya Nur Sikin Rumaday, yang cerewet pada saya kalau saya tinggal di rumah tidak ke kampus mengurus kuliah saya.
Terima kasih kepada Abang Abdul Hayat Rumaday atas dukungan, dorongan dan doanya selalu diberikan pada saya
Kepada adik saya Firman dan Afdal yang juga biasa marah-marah sama saya dan selalu bertanya kapan wisudah terima kasih.
Terima kasih juga semua saudara saya di Rumah Masa Depan yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu persatu tanpa mengurangi rasa hormat saya












