Catatan Pinggir Wisuda Unpacti: Akhir Manis Sebuah Perjuangan, Berangkat dari Cibiran

*Menuju Pendidikan Lebih Tinggi*

Setelah lulus dari MTsN, kemudian saya di daftarkan oleh abang Rahman di MAN Fakfak, tempat Abang Rahman juga bersekolah. Disana saya melanjutkan pendidikan menengah atas SMA, saya duduk di kelas 1 Abang Rahman lulus, dan dia tidak pulang kampung dia langsung berangkat ke Makassar melanjutkan kuliah di Makassar, tetapi tidak pernah melepaskan tanggung jawabnya kepada kami.

Sebelum pergi, dia menyampaikan sama saya, Kadir setelah ujian saya tunggu di Makassar nanti kuliah disana, kemudian dia juga memberikan pesan :
_”Kadir, belajar yang baik, jaga nama kedua orang tua dan keluarga, jangan nakal, ikuti aturan di sekoah dan jangan lupa sholat, mengaji, dan rajin ke sekolah.”_

Mendengar itu saya pun menangis karena abang Rahman yang jadi orang tua kami selalu mengingatkan kami belajar menjaga makan kami, bahkan kalau saya dan teman-teman belajar dalam Masjid dia duduk jaga di depan.

Biasa kalau dia menyuruh kami belajar dia sendiri yang buatkan susu atau teh kemudian dibawa simpan dekat kami baru dia keluar duduk diluar jaga kami, kalau dipikir-pikir dia masih SMA. Saat itu, tapi pikirannya seperti orang dewasa atau orang tua yang sudah punya anak. Namun, kembali saya menyalahkan kesedihan saya bahwa Abang Rahman berangkat ke makassar bukan meninggalkan kami tapi dia ke Makassar untuk melanjutkan kuliahnya disana. Lalu ramai-ramai kami antar dia ke pelabuhan dan kapal pun berangkat meninggalkan dermaga Fakfak menuju Makassar.

BACA JUGA:  Sekdisdik Sulsel: Hanya 150 Lolos Berkas Cakep dari 400 Pendaftar

Setelah kami pulang dari pelabuhan antar dia berangkat saya duduk di Masjid dan menangis, seiring berjalannya waktu setelah beberapa Minggu saya mengingat kembali pesannya, kemudian saya pun bangkit dan semangat sekolah sampai pada akhirnya tidak terasa waktunya tinggal menghitung minggu saya mengikuti ujian nasional.

Saat Abang Rahman dengar saya dan beberapa teman saya yang tinggal sama-sama di masjid akan ujian abag Rahman pun datang ke fakfak dari Makassar hanya untuk mengawal saya dan teman-teman saya ujian di MAN sampai saya selesai ujian. Saya belum dengar kelulusan. Namun, Abang Rahman sudah harus kembali ke Makassar. Di suatu sore yang penuh haru , abang Rahman mengajak mama dan bapak saya dan saya sendiri dia bawa kami masuk ke dalam kamar rumah keluarga di fakfak yang di tempati kedua orang tua saya . Kedua orang tua saya, yang datang jauh-jauh dari Gorom, Maluku, sengaja datang untuk mendampingi saya mengikuti ujian. Di dalam ruangan sederhana itu menjadi saksi sebuah momen yang akan terus tertanam dalam hati dan pikiran saya.

BACA JUGA:  Prof.Dr. Ansar Arifin, M.S: Relasi Pinggawa Sawi Ciptakan Perangkap Kemiskinan

Abang Rahman, sosok yang telah menjadi kakak sekaligus orang tua kedua saya, (walaupun dia bukan saudara kandung saya) memandang kami dengan sorot mata tajam namun penuh kasih. Suasana sejenak hening. Saya bisa melihat kelelahan di wajah bapak dan mama, yang selama ini berjuang dalam keterbatasan. Namun, saya juga merasakan keteguhan dan pengharapan yang tak pernah padam.

“Saya sudah dengar semua cemoohan,” Abang Rahman memulai dengan suara tegas, memecah keheningan. “Bahkan hinaan yang bukan datang dari orang lain, tapi dari keluarga dekat bapak dan ibu sendiri.”

Saya menundukkan kepala, hati saya menangis. Kalimat itu seperti angin yang membawa kembali ingatan akan komentar pedas dan penuh meremehkan yang sering kami dengar. Bahkan keluarga sendiri pun seolah meragukan kami, seolah tidak ada harapan untuk kami bermimpi lebih tinggi.
“Ah! Abusama dan Samia (Nama kedua orang tua saya) tidak akan mungkin menyekolahkan anak-anaknya tinggi-tinggi,” lanjut Abang Rahman, mengulangi ucapan sinis yang pernah didengar oleh Abang Rahman. “Makan sehari-hari saja salah-salah, apalagi mau kasih sekolah tinggi anak-anaknya.” Kata-kata itu menusuk, seperti mengiris keyakinan kami sedikit demi sedikit.