Yang Tercecer dari Reuni Alumni UIN Alauddin di Bima (1) : Drs.H.Syarifuddin M.H.:”Mukjizat” Alquran!

Drs.H.Syarifuddin, M.H.(kanan)
Drs.H.Syarifuddin, M.H.(kanan)

Itulah yang dia manfaatkan dengan adanya masjid. Setiap Fudin ke rumah tempat mengajar mengaji, sudah disiapkan pertama, makanan. Nanti pulang disiapkan lagi ‘snack’. Saat pulang sudah kenyang.

Saat Fudin menyelesaikan pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Alauddin tahun 1991, tiba-tiba diajak oleh teman-teman di sekitar tempat kos di masjid mengikuti tes calon hakim.

“Masa kita ini bisa jadi hakim,” Fudin membatin.

Dia tidak percaya diri awalnya. Tetapi temannya mengatakan, ikut dan coba saja. Prosesnya, belajar, belajar, belajar, ternyata bisa. Dari beberapa orang Bima yang belajar, Fudin sendiri yang lulus. Alhamdulillah pada tahun 1992 dia mengikuti pendidikan hingga pada tahun 1993.

Begitulah Fudin merasakan “mukjizat” Alquran itu masuk dalam kehidupannya di dalam hidupnya. Setelah menjadi hakim Agama Bima, tugas Fudin berputar, ke NTT, Kalimantan, dan kini (2026) di NTB, setelah menjadi Ketua Pengadilan Agama beberapa kali. Sekarang menjadi Hakim Tinggi. Kemarin, di Samarinda (Kaltim), Hakim Tinggi di PTA Mataram, dan tidak lama lagi, dalam waktu tiga tahun harus pindah. Mungkin akan masuk Jawa setelah ini.

BACA JUGA:  Perlindungan Hukum Terhadap Wartawan

Intinya, tidak ada yang mustahil. Seperti dikatakan oleh Prof. Thib, mari kita bercita-cita setinggi-tingginya. Kemudian kebaikan-kebaikan itu harus ditampakkan. Bagaimana kita membagi.

“Gaji hakim sekarang luar biasa. Gaji sudah lebih dari cukup untuk bisa hidup. Dan itu kita bagi. Sudah dapat Rp 50 ribu. Yang belum dapat bisa kirim kabar,” kata Syarifuddin yang pada awal acara sempat menyawer alumni yang hadir selembaran uang warna biru. (Bersambung).