“Termehek-Mehek”

Catatan M. Dahlan Abubakar 

NusantaraInsight, Jakarta — Kamis (4/3/3036), saya menumpang taksi ke Thamrin City, Jakarta Pusat. Dari Lebak Bulus Jakarta Selatan, tempat saya genap sebulan berada di ibu kota untuk menuntaskan buku kenangan TGKH Muhammad Hasan, B.A. — ayah dari adik Hamdan Zoelva dan juga ipar ayah saya — yang akan dibagikan 23 Maret 2026 di Bima.

Lumayan jauh, sebenarnya jika diukur menurut kilometer yang ada di taksi, saat saya pulang, jaraknya 16 km. Namun waktu yang dibutuhkan saat pulang hampir dua setengah jam karena harus sabar menghadapi arus lalu lintas pada jam-jam macet ibu kota.

Pada saat berangkat ke Thamrin City, sedikit lebih cepat karena orang-orang yang kelak membuat jalan ibu kota sesak, sedang di tempat bekerjanya masing-masing.

Seperti biasa, begitu saya meletakkan pantat di kursi depan sebelah kiri pengemudi — jarang saya duduk di kursi belakang — selalu ada pertanyaan pertama saya.

“Apa topik diskusi di kalangan ‘driver’ taksi yang lagi hangat saat sekarang ini?,” peluru pertanyaan pertama saya meluncur sebagai pemancing kepada ‘driver’ bertubuh kecil, tinggi sedang, dan berkulit putih.

BACA JUGA:  Argentina Mampu Mem-Prank Lawan

“Ya, serangan Amerika ke Iran, Pak!,” jawabnya singkat dan jelas sambil tangannya menggerak-geraknya stir, mencari ruang kosong di jalan Jakarta yang tidak pernah lengang.

“Bagaimana menurut pendapat Mas tentang aksi Amerika terhadap Iran itu?,” saya mulai mengusut.

“Saya baru tahu kalau ada yang namanya rudal balistik supersonik setelah mengikuti pemberitaan media tentang balasan Iran ke Israel!,” jawabnya lagi.

“Komentar Mas terhadap rudal balistik supersonik yang dikirim ke Israel seperti apa?,” kejar saya lagi.

“Wah…Israel dibuat “termehek-mehek” oleh Iran,” jawabnya yang membuat saya terkekeh-kekeh dengan diksi yang dipilih pengemudi yang cerdas dan humor ini.

“Termehek-mehek” meripakan istilah yang sangat populer di Indonesia yang menggambarkan kondisi seseorang yang sangat sedih, merana atau menangis sesunggukan karena cinta, patah hati, atau kerinduan mendalam.

Tetapi dikaitkan dengan konteks serangan balik Iran terhadap Israel dalam menurut istilah versi ‘driver’ tersebut lebih kepada kondisi Israel yang sangat menyedihkan dan merana akibat dibombardir rudal balistik supersonik dan drone atau pesawat nirawak yang melesat dari daratan Iran.

BACA JUGA:  Ujian Magister yang Mengharukan

Di tengah gencarnya serangan balik Iran yang awalnya membela diri itu, menimbulkan kerusakan parah di beberapa kota di Israel. Media Barat begitu kompak dan ketat memberitakan dampak destruktif yang dialami Amerika dan sekutunya, Israel dalam perang yang mengandalkan teknololgi persenjataan ini.

Saya pun mencoba ‘iseng’ bertanya kepada “Artificial Intelligence” (AI) — kecerdasan buatan — mengenai berbagai hal yang terkait dengan perang dua lawan satu itu. Jawabannya memang standar dan cenderung merujuk pada informasi yang sudah tersebar di media.

Saya pun menyimpulkan, AI yang mungkin tidak bisa lepas dari pengaruh Amerika, agaknya sudah “bermain mata” dalam kasus perang ini. Namun saya tidak kehabisan akal. Beberapa akun media sosial mewartawan informasi yang bersumber dari media arus utama yang untuk sementara dapat dipercaya.

Dalam pemberitaan itu banyak informasi yang berhasil dikeruk. Di kota Tel Aviv, gedung-gedung pencakar langit, hotel, dan perumahan mengalami kerusakan parah. Jendela-jendela gedung di sekitar Kedutaan AS juga pecah akibat ledakan.

BACA JUGA:  Serasa Narasi Verbal: Catatan Kecil atas “Ana Makassar Basar di Ambon” Rusdin Tompo

Di Haifa (pusat pembangkit listrik dan sistem komando strategis mengalami kerusakan signifikan).

Di Petak Tikva (sejumlah infrastruktur penting turut berdampak), Yerussalem (terkena serangan rudal Iran), Beersheba (juga menjadi target serangan Iran), Bat Yam (gedung-gedung mengalami kerusakan akibat ledakan), Rehovot (terkena serangan rudal Iran), dan Rama Gan (gedung-gedung mengalami kerusakan akibat ledakan).