Mendengar jawaban Habibie, Pak Harto terdiam. Tidak mengomentari kalimat Wakil Presiden. Publik pada masa itu sangat maklum, jika Pak Harto diam setelah mendengar kalimat lawan bicaranya, berarti dapat dimaknai, tidak atau kurang berkenan dengan apa yang disampaikan itu. Sebagai seorang yang sudah sepuh dan berlatar belakang budaya dan tata kama Jawab, kata Mbak Tutut, jawaban itu sepertinya mengagetkan Pak Harto.
Kalimat inilah mungkin yang membuat Pak Harto konon tidak pernah memberi kesempatan kepada Habibie bertemu setelah berhenti sebagai presiden tatkala belum sakit. Meskipun dalam catatan lain, Habibie pernah menjenguk Pak Harto ketika dirawat.
“Itu hanya perasaan saya,” ucap Mbak Tutut (hlm.660).
Yang jelas, Pak Yusril tetap menggunakan kata “berhenti” dalam teks pidato Pak Harto yang dibacakan pada tanggal 21 Mei 1998. (hlm 661).
Mbak Tutut satu-satunya anak-anak beliau yang ikut di mobil Pak Harto saat ke Istana Merdeka yang terakhir kali diinjaknya.
Dipecat dan gagal jadi presiden
Yusril Ihza Mahendara sudah enam bulan diberhentikan, saat Gus Dur diberhentikan oleh MPR. Ini gegara Gus Dur mau mengeluarkan dekret (bentuk tidak baku: dekrit) dan mencabut Tap MPR No.XXV tentang Markisme/PKI.
“Tap MPR itu bukan kewenangan Presiden, Gus, itu kewenangan MPR,” kata Yusril.
“Bagaimana caranya Gus Dur membubarkan anggota DPR/MPR?. Dekret itu enggak bisa terjadi kalau tidak didukung oleh militer. Tidak ada tentara yang mendukung pembubaran DPR/MPR sekarang. Kita pernah dekret tahun 1959. Dekret kembali ke UUD 1945, bubarkan konstituante. Tapi tanpa di-’back up’ oleh Jenderal Nasution, tidak mungkin dekret itu terjadi. Nasution yang mengamankan segalanya,” tulis Yustil. (194-194).
Yusril pun menambahkan,”Silakan mau diteruskan ini, atau presiden lebih baik mengundurkan diri saja”. Komentar Yusril itu diprotes seorang menteri yang menyayangkan dia berbicara seperti itu.
“Saya akui, kadang saya salah juga. Saya sempat berpikir sombong, “orang ini kan menjadi presiden gara-gara saya mundur”.(hlm.756). (Kisah mundurnya Yusril jadi calon presiden inilah yang saya tulis berdasarkan kisah adik Hamdan Zoelva yang ada di buku yang saya tulis).
Enam bulan setelah Yusril dipecat, Megawati jadi presiden.
“Siap-siap saja. Besok kembali lagi ke tempat yang kemarin,” kata Megawati melalui telepon suatu sore. Yusril sudah tahu akan kembali menjabat Menteri Kehakiman.
***
Seorang aktor politik, Ibu Aisyah Amini menawarkn Yusril ke Gus Dur atas kerelaan mundur dari pencalonan presiden waktu itu.
“Mas Yusril menjadi Ketua Mahkamah Agung saja!,” kata Gus Dur.
“Emang Presiden bisa menentukan Mahkamah Agung?,” kata Yusril.
“Loh, ga bisa ya?,” balas Gus Dur. Ha..ha..
***
Tahun 2004 berbeda situasi. Menjelang pencalonan Susilo Bambang Yudhoyono, Yusril terlibat dalam percakapan di balik layar, kemudian politik ini diucapkan lebih gamblang.
“Kalau saya mau maju sih mau saja, tapi yang membiayai siapa?,” kata Yusril.
Pertanyaan itu telak. SBY berpikir.
“Gimana kalau Pak Jusuf Kalla?,” kata seorang utusan yang datang untuk untuk kedua kalinya.
Yusril hanya tersenyum mengenang momen ini.
“Jawabannya singkat, ada yang mau maju, pasti ada duitnya,” tulis Yusril. (197). Nah, begitulah buku setebal 882 halaman ini yang berjudul “Untold stories” (tak terceritakan) ini bercerita. (*).












