Dari Autobiografi Yusril Ihza Mahendra: Hampir Teken Petisi 50

Ketika kuliah di Universitas Indonesia, Yusril berkuliah rangkap. Di Fakultas Hukum dan di Fakultas Sastra Jurusan Filsafat. Dia juga belajar tafsir dan fikih di IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di UI, Yusril melanjutkan pendidikan magister dan doktor.

“Perjalanan meraih ‘gelar doktor’ saya pun penuh drama,” kata Yusril.

Awalnya, dia ingin ke Cornell University, New York. Yusril sudah menemui George McTurnan Kahin, akademisi besar itu. Rencana ini kandas terkendala beasiswa.

Dia pun membidik University of the Punjab, Lahore, Pakistan. Sistemnya riset murni tanpa berkuliah. Mirip sistem di Inggris. Yusril mulai melakukan riset tentang Muhammad Iqbal dan belajar bahasa Urdu.

Muhammad Iqbal adalah seorang penyair, filsuf, dan politikus besar dari anak benua India yang dihormati sebagai “Bapak Spiritual Pakistan dan penyair nasional Pakistan. Ia menginspirasi Gerakan Pakistan dengan visi negara merdeka bagi umat muslim.

Situasi memanas karena konflik Afghanistan. Mahasiswa di sana, kata Yusril, bawaannya ingin perang saja. Yusril merasa tidak kondusif dengan suasana kampus seperti itu dan memilih balik ke Jakarta.

BACA JUGA:  Bertemu Kiper Legendaris Persib

Nasib baik kembali mempertemukan Yusril dengan Kahin di Jakarta. Akademikus terkenal asal Amerika Serikat itu menyarankan Yusril ke Universitas Sains Malaya (USM) dengan rekomendasi dua tokoh besar, Pak Natsir dan Sutan Takdir Alisjahbana.

“Kok, bisa Anda dapat rekomendasi dari orang-orang hebat ini,” pihak universitas yang kaget melihat dua nama itu beranya.

“Saya memang kenal baik dengan beliau-beliau,” jawab Yusril sambil tersenyum.

Hanya sepuluh bulan Yusril menuntaskan pendidikan magisternya dan langsung lanjut ke program doktor. Disertasinya diuji setelah 22 bulan menjalani aktivitas akademik. Salah seorang pengujinya adalah Buya Ahmad Syafii Maarif.

Setelah meraih doktor di Malaysia, Ibu Toeti Heraty menyarankan Yusril mengambil S-3 filsafat lagi. Yusril memang berniat dan sempat berpikir mengambilnya di UGM. Namun garis tangan berkata lain. Belum sempat niat itu terlaksana, Yusril sudah dikukuhkan sebagai profesor di Fakultas Huum UI.

Sempat juga berpikir, jika dia sudah profesor lalu menempuh ujian doktor lagi, meskipun bidangnya berbeda, rasanya akan menjadi canggung.

BACA JUGA:  “Framing System”  

“Paling tidak bisa membuat “keder” para penguji saya. Orang pasti akan bertanya. “Ini orang maunya apa, sudah profesor kok masih mau diuji,” canda Yusril Ihza Mahendra. (*).

M. Dahlan Abubakar
Lebak Bulus Jakarta, 23 Februari 2026.