Dia juga menyaksikan keduanya (Prof. Thib dan Prof Musdah) menjadi doktor dan saat itu sudah di Jakarta. Ketika selesai S-3, Muslimin ditawari Pak Ayumardi Azra (Prof. Dr., almarhum) tinggali di Jakarta. Dia mengetahui Muslimin merupakan doktor pertama dalam Hukum Islam. Namun Muslimin menolak. Sebab, kalau menerima itu sama dengan tidak tahu berterima kasih kepada IAIN Alauddin.
Muslimin juga menuturkan, ketika S-1 tidak banyak terlibat dalam dinamika organisasi. Nanti terlibat ketika di Senat.
Hal ini disebabkan dia memperoleh beasiswa Surat Perintah Sebelas Marat (Supersemar) mulai dari semester II, III hingga sarjana, sehingga harus fokus belajar.
Setelah meraih gelar doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dia langsung kembali ke Makassar pada tahun 2003 itu juga. Seiring berjalannya waktu, dia menjabat Guru Besar tahun 2019 pada saat berusia 48 tahun. Sampai sekarang sudah berusia 55 tahun dengan masa dinas sampai 70 tahun.
Yang Muslimin catat betul kenapa bisa berhasil. Pertama adalah niat. Juga karena motivasi. Karena niat yang kuat dan karena merasa dia tidak bisa bekerja, tidak bisa panas-panasan, hingga berkomitmen fokus di bidang pendidikan. Dari awal memang, sejak berkuliah ingin menjadi dosen. Jadi, dia konsern betul.
Seperti Prof.Thib Raya, Muslimin tidak melaluinya seperti itu. Dinamikanya sudah berbeda. Setelah meraih gelar doktor Muslimin belum punya istri.
Terpaksa harus kembali ke Bima mencari pasangan dan dapat.
Muslimin dididik dan terlatih di pondok dengan disiplin yang tinggi. Dengan semangat orang Bima yang pantang menyerah. Faktor yang kedua adalah doa.
Beberapa tahun lalu, Muslimin pernah berkunjung ke Pak Kiai Guru (TGKH Muhammad Hasan, B.A., Allah yarham). Pak Kiai memberi tahu Muslimin, kalian itu berhasil berkat doa orang tua.
Pak Kiai sangat dekat dengan keluarga Pak Muslimin. Prof Thib diminta ayah untuk membina dia bersaudara.
“Kalian itu berhasil karena saya berdoa untuk kalian. Berhasil karena doa orang tua,” ungkap Pak Kiai ketika itu dan Muslimin mempraktikkan betul itu. Ketika apa pun yang akan dilakukan, pasti akan berdoa. Memberi tahu akan ujian tanggal sekian, dan sebagainya.
Ketika tes S-2, banyak sekali yang tidak lulus. Senior-senior banyak yang tidak lulus karena menerjemahkan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Tengah malam, Muslimin sudah memimpikan bahwa soal ini yang akan keluar. Dia membaca dulu narasi bahasa Indonesia-nya dan itu betul yang keluar dalam ujian.
“Yang terakhir, kita harus membangun silaturahim dan konektivitas antaralumni UIN,” harapnya.
Muslimin tahu betul bagaimana karakter orang-orang Bugis Makassar, dan sebagainya. Mereka sangat kuat konektivitasnya. Betul dari Bima ada yang Guru Besar, ada yang jenderal, tetapi semua itu berjuang dengan “single fighter”. Berjuang masing-masing. Lebih banyak penonjolan, bukan konektivitas.
Alangkah indahnya, kalau kita punya sumber daya ini dieratkan dan dikuatkan konektivitasnya. Jaringan antaralumni, jaringan antarorang Bima untuk tembus pada level nasional dan internasional.
“Saya kira ini yang harus kita bangun. Bukan zamannya kita harus saling gontok-gontokan. Kalau pun ada yang terjadi dengan IAIN Bima, itu pun harus menjadi perhatian kita bahwa potensi yang besar ini harus disatukan.
Jika kita bayangkan, IAIN Bima ini jadi, akan mengubah struktur pendidikan dan model pengembangan masyarakat daerah. Contohnya, kalau Prof. Kadri mau datang ke Bima, Prof. Muhammad mau datang ke Bima, atau saya mau datang ke Bima, akan menaikkan “human capital index” (Indeks modal manusia terhadap pembangunan).












