Catatan MDA: Murid Hadir Jika Ada MBG

Berbicara tentang naik sepeda ini, saya terkenang ketika mengunjungi Jepang pada tahun 2013. Suatu siang rombongan kami dari Unhas berkunjung ke Kyoto University. Pasalnya, “tour leader” kami, Dr.Ir. Agnes Rampisela, merupakan alumnis perguruan tinggi tertua (berdiri 18 Juni 1897) dan terkemuka di Jepang ini. Universitas ini semula bernama Kyoto Imperial University (Universitas Kekaisaran Kyoto). Pada tahun 1947 berganti nama menjadi Kyoto University hingga sekarang.

Ketika berjalan kaki memasuki kampus, dari arah sebelah kiri di bagian dalam gerbang kampus, Dr. Agnes Rampisela berpapasan dengan Profesornya ketika kuliah dulu yang sedang naik sepeda. Ketika disapa oleh mahasiswanya puluhan tahun silam itu, sang Profesor pun turun dari sepedanya dan membalas hormat gaya Jepang (membungkukkan badan) dari Ibu Agnes. Sang Profesor saya yakin waktu itu berusia berkisar 80-an tahun. Artinya dia masih dikaryakan karena bersepeda ke kampus Kyoyo University.

Melihat kejadian ini, pikiran saya melayang jauh kembali ke tanah air, kampus merah Universitas Hasanuddin tepatnya, disertai sebuah pertanyaan.
“Masih adakah Profesor di Unhas yang mau naik sepeda ke kampus?”.
Tidak perlu dijawab, cukup kita yang merenung sendiri-sendiri.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (1): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Hari MBG

Kembali ke MBG. Di kampung kelahiran saya, Desa Kanca Kecamatan Parado Kabupaten Bima, sekitar 55-60 km di sebelah selatan Kota Bima, ada satu SDN. Sekolah yang didirikan 1 Agustus 1960, almamater saya hingga kelas 5. Pada saat duduk di kelas 5, saya magang di SDN Parado, sekitar 1,5 km dari Desa Kanca. Usai magang di sekolah yang kebetulan dipimpin ayah, saya pun diikutkan menjadi peserta ujian masuk SMP. Dan, lulus “secara misterius”.

Beberapa tahun kemudian, pemerintah Orde Baru mendirikan SD Inpres di tengah keberhasilan Program Keluarga Berencana (KB). Hanya berusia beberapa tahun menerima murid, SD Inpres yang berdampingan dengan SDN Kanca itu akhirnya bergantian menerima murid baru, hingga akhirnya ditutup sama sekali karena kekurangan murid.

SDN Kanca masih seperti dulu. Yang berubah sejak saya tinggalkan adalah bangunannya yang sudah setengah batu. Pada saat program MBG diluncurkan, sekolah saya ini juga dapat kebagian. Tetapi realisasinya baru dilaksanakan tahun 2026. Sebab ketika saya pulang kampung tahun November 2025, program ini masih dalam proses penyiapan,

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (7-Habis): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Saat mudik Lebaran 2026, saya memperoleh informasi dari para orang tua, para murid sudah mulai menikmati MBG. Hanya saja, kehadiran menu gratis ini mengubah perilaku para murid. Mereka nanti datang bersekolah jika pada hari pembagian MBG yang berlangsung dua kali seminggu, Senin dan Kamis.

“Kalau tidak ada MBG, mereka tidak pergi sekolah,” seorang ibu bercerita kepada saya saat ikut bergotong royong membangun pagar Masjid At Taqwa Desa Kanca, 28 Maret 2026 pagi.

Repotnya lagi, para murid yang bersekolah pada hari Senin dan Kamis itu, kadang-kadang tidak tenang belajar ketika melihat mobil SPPG muncul di halaman sekolah. Saat melihat mobil yang membawa MBG itu masuk, mereka sulit konsetrasi belajar lagi. Bahkan, ingin segera lari menjemput MBG. Astaga.

Itu cerita di SDN Kanca. Lain pula urusan MBG di salah salah satu sekolah menengah tingkat atas di Kecamatan Parado. Di sekolah ini, panitia pelaksana MBG adalah para karyawan sekolah. Mereka-lah yang menjadi pengatur jatah MBG.

BACA JUGA:  Saat Pramugari ‘Tumbang’ ke Pangkuan Penumpang

Persoalan MBG di sini adalah saat jatah MBG tidak sesuai dengan jumlah siswa yang hadir. Jatah MBG jumlahnya sesuai daftar siswa yang ada, namun kerap siswa yang hadir bersekolah kadang hanya separuh. Pertanyaan kita, jatah MBG yang tak bertuan ke mana?