Berbincang dalam Temaram Anjungan KM Tilongkabila

Mendengar isi surat tersebut memicu inspirasi saya untuk membuat sebuah cerita pendek. Cerpen berjudul “Malam Minggu” dimuat di rubrik “Cerita Pendek” harian “Pedoman Rakyat” edisi 6 Maret 1976.

“Jadi sempat menulis buku awal kisahnya itu?,” tanya Ifonk.

“Iya, ada buku saya “Lorong Waktu” yang saya serahkan ke Capt.Subair, tetapi tidak mencantum kisah teman itu,” jawab saya.

“Zaman sekarang kan mereka tidak tahu, seperti apa perjuangan orang-orang dulu mencari ilmu,” katanya lagi.

“Saya senang dengar cerita orang-orang lama, Pak Aji,” sambung Ifonk setelah mendengar pengalaman seorang teman Profesor yang ketika masih masih di Bima pernah menjadi kusir benhur. Saat pagi belum sempat cuci muka, seorang temannya minta diantar ke suatu tempat sekitar 3 km dari desanya. Saat pagi-pagi ketika mendekati kudanya, satu tendangan penghela benhur itu melenyapkan satu biji giginya. Bibirnya pun sobek. Lantaran Mantri Kesehatan kala itu belum profesional, jahitan pada bibirnya, menyisakan pemandangan yang berbeda dengan bentuk bibitnya yang normal.

Ifonk juga menceritakan kakeknya yang dulu pernah naik perahu layar ke Tanjung Pinang dan Jakarta, tanpa kompas sama sekali. Orang zaman dulu memanfaatkan rasi bintang di langit sebagai petunjuk arah. Ada rasi bintang tertentu yang selalu mereka jadikan sebagai pedoman pelayaran.

BACA JUGA:  Antara Ibu dan Profesi

Yang menarik dari bincang-bincang dengan Ifonk adalah dia pernah berkenalan dengan salah seorang gadis asal Dompu yang belajar di Makassar. Dia bahkan sudah berkomunikasi dengan orang tua si perempuan tersebut dan disetujui. Namun saat diinformasikan kepada orang tuanya di Jeneponto, ternyata mengandaskan keinginan Ifonk mempersunting gadis Dompu tersebut.

“Tidak usah jauh-jauh dari kampung. Di sini saja,” orang tuanya berdalih saat mendengar keinginan Ifonk.

Ternyata beberapa saat kemudian, Ifonk akhirnya duduk bersanding dengan gadis asal kampung halamannya sendiri di Kecamatan Tamalate Kabupaten Jeneponto. Kisah ini menutup sesi bincang-bincang kami sembari menunggu KM Tilongkabila merapat di Pangkalan Soekarno-Hatta Makassar pada pukul 23.00 Wita, Ahad (29/3/2026) malam. (*).