Di rumah dalam waktu satu minggu ada 12 kresek sampah. Mereka dilatih dengan memperkenalkan tempat sampah harus disediakan. Di antaranya, ada warna hijau (organik), biru (yang bisa didaur ulang– resycle), merah (untuk B3), hitam (sampah yang tak bisa didaur ulang sama sekali). Yang diolah adalah sampah organik,” kata Wakil Sekretaris Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) DPD Partai Golkar Bali 2025 – 2030 dan Wakil Sekretaris BPD PHRI Provinsi Bali 2025 -2030 tersebut.
Yang menjadi sampah itulah yang digunakan untuk “urban farming”, kebun perkotaan. Jadi, warga bisa membuat kebun sendiri. Bisa pakai “polibag”, kaleng-kaleng bekas yang kemudian digantung dan menggunakan kompos hasil sampah sendiri. Sampah dari dapur, daun-daunan misalnya.
Paket yang ada dalam pengelolaan Arina adalah “compos bag” (kantong kompos). Satu kantong itu ada bukaan di bawahnya untuk mengetahui apakah sudah menjadi kompos atau belum. Kapasitas kantong bisa 50 liter, 80 liter, dan 200 liter. Namun yang dijual kapasitas 200 liter karena dalam satu minggu saja ada 12 kresek sampah, sehingga diperlukan yang ‘gede’ (besar). Ada juga biobakteri untuk mengurai, kemudian tanah subur (katalisator) untuk membantu mengurai biobakteri tersebut.
Setelah melaksanakan pelatihan, sekali seminggu, Arina mengeceknya. Jadi tidak ditinggalkan begitu saja. Sebab, kalau tidak ada yang memulai, siapa lagi yang memulai.
“Ini baru dimulai. Kalau dilatih orang per orang, sangat melelahkan. Jadi lebih baik misalnya dalam satu keluarga atau mengumpulkan mereka yang tokoh-tokoh yang mau belajar. Tidak penting mereka, mau yang punya jabatan, asal mau belajar dan bisa memberikan pelatihan di TP-an itu. Minimal 5 orang dilatih sampai mereka paham dan itu dipantau melalui WA grup bagaimana hasilnya setiap hari hasil kompos tersebut,” sebut Arina.
Dia mengakui masih melakukan “trial and erros” (masih mencoba-coba) mengolah sampah sendiri di rumah tangga. Permasalahan utama sampah itu, ya bau. Susah diolah dan oleh sebab itu, dibutuhkan biobakteri. Masalah terbesar dari sampah itu adalah biobakteri.
Arina mengatakan, saat kompos sudah jadi, kita buatkan saja taman di rumah sehingga melahirkan tanaman buah dalam pot (tabulampot). Kita buatkan saja misalnya tomat dan begitu berbuah kita dapat buah segar. Organik pula, keluarga pun sehat.
“Ini sebenarnya saduran dari pendidikan kesejahteraan keluarga (PKK). Dulu, kan rumah sehat harus halamannya luas, sekarang sudah dipindahkan ke pot. Nanti tanamannya dimanfaatkan di pot itu. Sudah ada contohnya, sehingga saya berani berbicara,” beber Arina.
Menghasilkan biobakteri itu memang sangat lama. Dalam waktu 1-2 bulan, belum tentu dia menjadi kompos. Kompos yang ada setengah jadi, belum menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tanaman. Jadi itu ada namanya pematangan kompos setengah jadi itu memerlukan waktu sepuluh hari. Ini prosesnya agak lama. Bukan dari hulu ke hilir, melainkan dari hilir ke hulu. Di hulu diajarkan pelatihan. Begitu jadi kompos setengah jadi, kita bawa ke hilir.
“Diberikan pelatihan mengelola sampah, menjadi kompos setengah jadi, kalau di rumah sudah penuh, ini yang sedang dipikirkan untuk membeli mesin yang bisa membuat kompos yang jadi awal dan saya bekerja sama dengan konstituen yang dulu. Dia punya kebun di daerah Tegalalan. Diminta tanahnya untuk jadi “korban” sebagai demonstrasi plot (demplot) dan menggunakan pupuk kompos ini,” sebut Arina panjang lebar.
Prosesnya memang sangat panjang, kata Arina, tapi kalau tidak ada yang memulai, siapa lagi. Untuk membuat kompos setengah jadi itulah, Arina berniat membeli mesin. Caranya supaya masyarakat tidak malas lagi, kalau itu masih berupa sampah basah organik yang belum terurai akan diambil, diurus dulu. Baru diambil kompos setengah jadi. Itulah cara mengedukasi, dan tidak semudah itu.












