Buku Biografi Sejarah Ajoeba Wartabone sebagai Moment of Truth

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

NusantaraInsight, Makassar — Sejak buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja, saya terima pada Kamis, 12 Februari 2026, interaksi saya bukan hanya dengan buku itu, tetapi juga dengan sejumlah orang, institusi, pemikiran, nilai-nilai, sejarah, budaya, dan narasi besar bangsa Indonesia.

Buku biografi gagasan dan kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia ini, ditulis oleh Basri Amin, Ph.D, peneliti utama pada Pusat Studi Dokumentasi (PSD) H.B. Jassin, Ketua Bidang Kajian Budaya dan SDM di Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Gorontalo, dan pengajar di Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Buku terbitan Diomedia, Agustus 2025, ini begitu istimewa, karena diberi kata pengantar oleh Prof Dr Meutia Hatta Swasono, selaku Ketua Umum Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI), 2024-2029, dan di bagian back cover-nya ada testimoni M Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI, periode 2004-2009 & 2014-2019.

Lebih istimewa lagi karena buku setebal lvi+435 halaman tersebut diberikan oleh Ir HM Pulu Niode, salah seorang cucu Ajoeba Wartabone, melalui stafnya Yunita.

BACA JUGA:  Indira Jusuf Ismail, PKK, dan Kota Layak Anak

*Mata Rantai Sejarah*

Bila dijabarkan, dari garis nasab, Ajoeba, yang lahir pada 11 Juni 1894, berada dalam bingkai keluarga besar Wartabone-Kaluku.

Wartabone menempati ruang kepemimpinan yang sangat khusus dalam konteks sejarah Gorontalo.

Geneologi Wartabone, bila dilacak hingga akhir abad ke-18, punya pengaruh kepemimpinan politik dan jejaring kekerabatan di Sulawesi dan Maluku Utara. Kakek Ajoeba, Nuku Wartabone, merupakan keturunan Sultan Nuku dari Tidore, Maluku Utara.

Jejak Wartabone, secara akademis telah disingkap oleh Hadrawi, Sadi, dan Syamsuri dalam buku Raja Wartabone: Sang Santri Bontoala yang Bermoyang Suwawa Bugis (2024).

Dalam buku itu disimpulkan bahwa Wartabone atau La Bunnue sebagai Raja Suwawa (1830-1849 & 1875-1885) merupakan seorang bangsawan dan aristokrat sufi.

Ada tiga tokoh kunci dari Suwawa yang tidak terpisahkan dengan Ajoeba, yakni Raja Wartabone, Nuku Wartabone, dan Zakaria Wartabone.

Zakaria Wartabone, tidak lain adalah ayah dari Ajoeba, sedangkan ibunya bernama Tolangohula Kaluku.

Ajoeba Wartabone adalah kakak kandung Nani Wartabone, pejuang dan Pahlawan Nasional asal Gorontalo. Garis silsilah keluarga Ajoeba Wartabone terhubung ke Taki Niode, Wali Kota Gorontalo, 1963-1971.

BACA JUGA:  Muhasabah Diri di Tahun Baru Islam

Sebagai politisi pejuang, mata rantai sejarah Ajoeba Wartabone terkoneksi dengan Negara Indonesia Timur (NIT).

Dan ketika menjadi bagian dari Goodwill Missie parlemen NIT, di tahun 1948, Ajoeba Wartabone bertemu dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan sejumlah tokoh nasionalis dan pergerakan lainnya, di Yogyakarta, yang kala itu, merupakan ibu kota Republik Indonesia.