NusantaraInsight, Bima — Ibadah puasa Ramadan merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas iman dan amal saleh. Bulan Ramdhan memiliki nilai yang lebih utama, memiliki nilai yang lebih istimewa dibandingkan bulan-bulan yang lain.
“Bagi kita yang beriman dan bertakwa, Ramadan merupakan bulan yang senantiasa disambut kedatangannya dan dilepas kepergiannya. Kalau ia sudah datang, seakan-akan kita tidak ingin melepaskannya pergi,” demikian Guru Besar UIN Jakarta dan Universitas PTIQ Jakarta Prof.Dr.Ahmad Thib Raya, M.A. dalam khutbah Salat Idul Fitri 1447 di Masjid Agung Pemkab Bima di Nggodo Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Sabtu (21/3/2026).
Dalam salat Ied yang dihadiri Bupati Bima Adi Mahyudi, Wakil Bupati dr.Irfan, para kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Bima, para ulama, tokoh masyarakat, dan umat Islam di Kabupaten Bima, Prof.Ahmad Thib Raya, yang juga menjabat Direktur Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta itu mengatakan, seandainya dapat, kita menginginkannya selalu ada bersama kita sepanjang tahun. Kalau Ramadan sudah pergi, kita ingin agar dia cepat kembali. Bagaimana tidak, Rasulullah menyatakan dalam sebuah hadisnya yang maknanya:
“Seandainya umatku mengetahui rahasia-rahasia yang terdapat di dalam bulan Ramadhan, tentunya mereka pasti berharap supaya setahun itu menjadi bulan Ramadhan seluruhnya, karena di dalamnya terhimpun seluruh kebajikan, segala amal yang dilakukan selama bulan itu diterima, segala doa yang diucapkan diperkenankan, segala dosa yang pernah dilakukan diampunkan Allah, dan syurga merindukan mereka”.
Ahmad Thib Raya mengemukakan, pelaksanaan hari raya Idul Fitri merupakan pernyataan ungkapan rasa gembira yang amat dalam terhadap hasil yang telah kita capai selama bulan Ramadan. Kegembiraan itu kita realisasikan dalam bentuk ucapan puji syukur kepada Allah dengan mengumandangkan kalimat-kalimat yang agung, seperti Allāhu Akbar (Allah Mahabesar), Lâ ilāha illā Allāh (Tiada tuhan selain Allah), Subhānallāh (Mahasuci Allah), dan seterusnya.
“Begitu besar makna perayaan kegembiraan kita pada hari ini, sampai-sampai seluruh kaum muslimin mendapat undangan dari Allah untuk hadir di tempat ini, baik yang tua maupun yang muda, laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, termasuk wanita yang sedang dalam keadaan haid. Puncak kegembiraan yang paling tinggi yang dicapai oleh orang yang berpuasa, sebagai yang digambarkan oleh Rasulullah, ialah ketika mereka berbuka puasa dan berhari raya Idul Fitri, dan ketika mereka akan bertemu dengan Allah SWT di hari akhirat nanti.” ungkap putra kedua almarhum TGKH Muhammad Hasan, B.A. tersebut.
Pengganti Sementara Rektor UIN Alauddin Makassar 2015 itu mengatakan, perayaan Idul Fitri pada hari ini merupakan perayaan tasyakkuran dan perwujudan kegembiraan kita atas keberhasilan memenangkan dua hal itu, yaitu (1) lolosnya kita dari penataran/training dalam mengendalikan hawa nafsu, dan (2) lolosnya kita dari perlombaan beribadah selama sebulan penuh.
Dia menyebutkan, nafsu yang bercokol di dalam diri setiap manusia memiliki dua potensi sebagai fitrah yang diciptakan Allah untuk manusia, yaitu (1) potensi jahat, yang disebut oleh Alquran sebagai “fujūr”, dan (2) potensi baik yang disebut sebagai “taqwā”.
“Dua potensi ini merupakan motor penggerak yang mendorong manusia untuk melakukan 2 macam perbuatan, yaitu perbuatan jahat atau perbuatan baik. Potensi “fujur” senatiasa mendorong manusia untuk berbuat jahat dan potensi “taqwa” senantiasa mendorong manusia untuk berbuat baik,” kata Ahmad Thib Raya.












