Belajar Menerima Rasa Sakit

Rasa sakit
Mohammad Haekal Rumaday (Mahasiswa UIN Alauddin, Makassar)

Oleh: Mohammad Haekal Rumaday (Mahasiswa UIN Alauddin, Makassar)

NusantaraInsight, Makassar — Ketika kita memilih untuk berubah atau meyakini suatu nilai baru dalam hidup kita, itu berarti bahwa kita sedang memilih memasukkan suatu rasa sakit baru dalam hidup kita. Maka nikmati, terimalah dan kerjakanlah apa yang jadi tujuan dan tanggung jawab kita.

Ketika sesuatu yang menjadi alasan untuk mewujudkan impian harapan, dan tujuan pupus, maka semua akan terasa gagal. Kita akan berujar, “Yah, saya gagal. Ah, sial.”

Gagal, gagal dan gagal lagi, akan membuat ego kian berkuasa. Membuat kita tak mampu untuk mensyukuri segala nikmat Sang Pencipta. Sehingga tepat kata orang, dewasa adalah tentang pilihan dan nilai yang dipertanggungjawabkan.

Tepat semester 2, Tahun Ajaran 2022-2023, aku mencoba keberuntungan dengan ikut menjadi salah satu peserta calon penerima beasiswa dengan harapan bisa mengurangi biaya kuliah. Selama menanti hasil kelulusan, aku sholat lima waktu selalu. Semua memusat pada satu harapan dan doa: semoga lulus beasiswa.

BACA JUGA:  Kenangan pada Kassi-Kassi Era Akhir 80an hingga Awal 90an

Akhirnya tanggal yang dinanti tiba. Aku membuka link yang di-share melalui grup peserta beasiswa. Ya, harus diakui, aku sangat deg-degan. Semua perasaan bercampur aduk. Bismillah, akhirnya kubuka link itu. Alhasil aku dinyatakan tak lulus. Itulah kenyataan yang sulit tuk diterima, “Saya gagal!”

Harus diakui air mata mengalir perlahan dari pipi. Aku menyesali kegagalan ini. Melalui WhatsApp kabar ini kusampaikan kepada kakakku. Dia, dengan nada sedikit menguatkan, mengatakan padaku, tidak apa-apa.

“Mungkin belum rezekimu. Kuliah saja, tidak perlu khawatir biaya UKT-mu.” Kata kakakku, menenangkan.

Pada kenyataannya kuliahku tetap berjalan. Waktu mengalir begitu cepat dan semua peristiwa itu terlupakan.

Tepat semester 4, suatu peristiwa paling mengerikan terjadi dalam hidupku. Peristiwa ini tak akan kulupakan seumur hidupku. Ketika itu, aku menyangka semua mimpi dan harapanku sudah kandas.

Aku ingat, hari itu sekira pukul 19.00 lewat sekian menit handphone-ku berbunyi. Adikku menghubungi melalui WhatsApp. Kami mulai berbincang lewat saluran teknologi itu.

“Hallo, Dek, ada apa?”

BACA JUGA:  Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto, Balla Barakkaka ri Galesong, dan Kepemimpinan Appaka Sulapak

“Berita buruk, Kak.”

“Haa?” Aku cukup kaget, tidak seperti biasa kalimat itu keluar dari mulut adikku.

“Buruk kenapa, Dek?

“Adik kita yang paling bungsu hamil.

“Ha, hamil?”

Pikiranku mulai tidak karuan. Marah sekaligus sedih.

“Siapa yang berani melakukan perbuatan kejam itu?”

“Salah satu pemuda di kampung kita.”

“Saya akan kabari kembali, yah.” Demikian percakapan singkat itu.

Tanpa sadar air mataku bercucuran. Orang yang jadi alasan untuk saya kuliah, kini telah hamil dan sebentar lagi akan berkeluarga. Semua terasa hampa. Mimpi dan harapan yang selama ini membuncah kini serasa hancur berantakan.

Di satu sisi, aku sungguh benar-benar marah. Namun di saat itu pula aku sungguh tak berdaya dengan kondisiku yang jauh dari kampung halaman. Jadinya, aku hanya bisa memprotes dan merutuki diri sendiri. Kenapa peristiwa ini terjadi pada orang yang paling aku sayangi. Kenapa?.

“Lihat apa yang terjadi, kau lebih memilih kuliah dan jauh dari kampung halaman. Inikah yang kau maksud dengan pencapaian, gelar, kesuksesan? Bullsihit. Kau seharusnya menjaga Ibu dan adekmu. Bukankah kau paham kondisi rumah sepeninggalan ayah beberapa tahun lalu? Kau gagal jadi sosok kakak sekaligus anak, Haekal. Kau gagal!”

BACA JUGA:  Indira Jusuf Ismail, PKK, dan Kota Layak Anak

Kudengar kemarahan itu ditujukan padaku. Telunjuk dengan jari tegas mengarah ke wajahku. Aku menyalahkan diriku sendiri.

Pada kenyataannya memang demikian. Sehingga pantas bila aku ikut bertanggung jawab atas semua peristiwa yang terjadi pada adikku. Akibat peristiwa itu, aku terjaga sepanjang malam. Pikiranku kian kusut. Aku benar-benar putus asa.