Belajar Menerima Rasa Sakit

Rasa sakit
Mohammad Haekal Rumaday (Mahasiswa UIN Alauddin, Makassar)

Pukul jam 03.30, aku benar-benar capek. Capek fisik, lebih-lebih mental.

Sebelum beranjak tidur, aku berdoa dalam diam, penuh kepasrahan, atau lebih tepatnya putus asa.

“Tuhan, semoga ini menjadi malam terakhirku di dunia ini. Ambillah nyawaku sebagai balasan atas semua peristiwa yang terjadi. Semoga aku tak lagi melihat matahari di esok pagi. Aamiin.”

Barangkali doa ini terdengar naif. Namun malam itu, doa penuh kesusahan ini aku panjatkan. Aku lebih memilih kematian daripada harus menghadapi kenyataan hidup nan getir. Putus atas telah menyumbat akal sehatku.

Ternyata, aku kembali terbangun di pagi hari, pada pukul 09:24. Dalam hati aku berkata, “Sungguh ini suatu keajaiban.” Aku masih dapat menikmati matahari hari di pagi hari, meski tak demikian keinginanku.

Hari-hari selanjutnya, aku jalani dengan putus asa. Aku lebih banyak diam, bahkan enggan berkomunikasi dengan ibu dan kakak-kakakku.

Aku mencoba berkonsultasi mengenai masalahku ke salah seorang senior, sebut saja Ali. Kebetulan beliau sudah kuanggap seperti kakak sekaligus seorang psikolog.

BACA JUGA:  Kemenangan untuk Semua : Harapan Pemuda dan Mahasiswa SBT Makassar

Tanpa janji terlebih dahulu, aku mampir ke kostnya. Setiba di kostnya, dia kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba.

“Tumben datang, tak berkabar terlebih dahulu,” ujarnya.

“Hehe maaf, kebetulan lewat. Ada keperluan sama kakak. Jadi saya putuskan tuk mampir.”

“Emang ada perlu apa?”

Aku menceritakan semua musibah yang menimpaku. Aku sampaikan bahwa aku benar-benar kecewa pada diri sendiri, ibu dan kakak-kakakku.

Dia menjawab dengan melontarkan sebuah pertanyaan, “kamu tau gak apa yang paling buat orang tua bahagia?”

Aku jawab dengan nada sedikit kesal, “Yah tentu saja gelar, pencapaian yang gemilang, kesuksesan atau semacamnya.”

“Kamu salah kali.”

Kata dia, hal yang paling membuat orang tuamu bahagia adalah komunikasi. Ya betul komunikasi. Ketika orang tuamu tahu bahwa anak yang selama ini mereka banggakan baik-baik saja, itu sudah merupakan suatu kebahagiaan terbesar bagi mereka, terlepas dari semua pencapaian yang kau maksud.

Dia melanjutkan, kau seharusnya menjaga komunikasi baik dengan mereka, terlepas dari semua pandanganmu terhadap peristiwa yang terjadi. Yakinlah bahwa suatu saat kamu akan paham atas takdirmu. Ikhlas dan terimalah ini sebagai takdirmu. Terpenting jaga komunikasimu sama orang tuamu sebelum penyesalan itu datang. Jadikanlah ini suatu pelajaran semoga kelak kamu bisa bermanfaat bagi keluargamu dan orang lain.

BACA JUGA:  DI HADAPAN FIRMAN ALLAH, TIDAK ADA KURSI PIMPINAN

Demikianlah percakapan kami.

Hari terus berjalan tanpa memberiku jeda dalam memikirkan semua yang terjadi padaku. Air mata yang setiap malam mengalir serasa seperti sebuah kebohongan belaka. Aku belum sepenuhnya ikhlas atas apa yang terjadi.

Aku terus memaki diri sendiri. “Hey pecundang, mau sampai kapan kau mau tangisi semua ini? Bangun dan lakukan sesuatu. Jangan jadi pecundang yang menyerah, ciptakan takdirmu sendiri.”

Ku coba untuk renungi nasihat kak Ali.
Jujur saja aku cukup tertampar dengan nasihatnya. Aku terlalu mementingkan ego dalam melihat peristiwa ini. Aku seharusnya menerima ini semua, sebagai bentuk ujian hidup, bukan memaksa sesuai kehendakku.

Yah, semua ini harus dilakukan step by step. Kembali aku bangun komunikasi yang baik dengan orang tuaku, adikku, dan kakak-kakakku. Tanpa aku sadari, energi positif perlahan serasa mengelilingiku. Aku kembali bersemangat dalam kuliah. Perlahan aku terima ini sebagai pelajaran hidupku.

Barangkali jika kita terlalu nekat dalam bermimpi dan bercita-cita, maka kita juga harus bersiap dalam menghadapi hambatan dan rintangannya. Jadi, dewasa itu adalah tentang pilihan dan nilai yang harus dipertanggungjawabkan. (*)