Pada momentum berharga tersebut, saya melihat banyak wajah yang saya kenal yakni para tokoh literasi, akademisi, penulis, dan sahabat kata antara lain : Prof. Dr. Kembong Daeng, Prof. Dr. H. Sukardi Weda, Prof. Dr. Nurhayati Rahman, Dr. M. Dahlan Abubakar, Idwar Anwar, Ishakim, Muhammad Amir Jaya, Syahrir Dg Nassa, Arwan D Awing, Andi Ruhban, Rosita Desriani, Maysir, Nas, Nasyaruddin Anwar. Dan sejumlah tokoh lainnya. Mereka hadir bukan sebatas sebagai undangan, tetapi sebagai saksi.
Saya pulang dari museum itu dengan langkah yang berbeda. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat hanya lebih dalam. Abang Rusdin Tompo, lewat bukunya, tidak sebatas menulis Ambon. Ia membawa saya pulang ke Maluku. Pulang untuk berdamai dengan identitas yang tercerai. Pulang untuk mengingat bahwa toleransi bukan jargon, melainkan pengalaman hidup yang pernah nyata. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah.” saya tahu bahwa menulis adalah cara lain untuk pulang dan untuk tidak benar-benar pergi.
_Parang Tambung, 23/12/25 | pukul : 02.30._












