Nasionalisme tidak bisa diukur hanya dari kefasihan menggunakan bahasa daerah tertentu
Jika ukuran cinta daerah hanya ditentukan dari kemampuan berbahasa lokal, maka kita sedang menyederhanakan makna budaya itu sendiri. Padahal budaya jauh lebih luas dari sekadar bahasa. Ada nilai penghormatan, etika, solidaritas, gotong royong, dan rasa memiliki terhadap tanah kelahiran yang juga menjadi bagian penting dari kebudayaan
Ironisnya, di tengah kekhawatiran terhadap lunturnya bahasa daerah, kita terkadang lupa bahwa tantangan terbesar generasi muda hari ini bukan hanya soal bahasa, tetapi juga bagaimana menjaga karakter, integritas, dan rasa kebangsaan di tengah arus globalisasi yang begitu kuat.
Karena itu, pelestarian budaya harus dilakukan dengan cara yang bijak dan proporsional. Bahasa daerah harus terus dijaga, tetapi jangan sampai dijadikan syarat yang tidak relevan dalam ruang-ruang tertentu yang bersifat nasional
Kita perlu membedakan mana ruang pelestarian budaya lokal dan mana ruang representasi kebangsaan. Keduanya penting, tetapi tidak selalu harus dicampur dalam parameter yang sama.
Paskibraka nasional pada akhirnya adalah simbol persatuan Indonesia. Mereka berdiri di bawah Sang Merah Putih bukan mewakili satu suku, satu bahasa, atau satu golongan tertentu, melainkan mewakili seluruh Indonesia dengan segala keberagamannya
Dan justru di situlah nilai budaya Indonesia yang sesungguhnya, mampu menghargai perbedaan tanpa kehilangan rasa persatuan.













