***
Ketika saya diajak membuat bionarasi untuk buku direktori penyair Indonesia, buku kumpulan puisi saya baru dua, yakni “Tuhan Tak Sedang Iseng” (Rayhan Intermedia, 2014) dan “Sehimpun Puisi Mantra Cinta” (Liblitera, 2016).
Sungguh, tak pernah membayangkan nama saya akan tercetak dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” (ASPI), yang diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia, September 2017. Nama saya berada di antara lebih 40an penyair asal Sulawesi Selatan.
Buku yang disusun secara alfabetis itu, menempatkan nama saya berada di halaman 533. Perlu diketahui, terdapat lebih 650 penyair yang tertera namanya di buku ASPI ini.
Nama-nama besar penyair Indonesia bisa dilihat di daftar isi. Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Arifin C Noer, Armijn Pane, Chairil Anwar, Djenar Maesa Ayu, D Zawawi Imron, Eka Budianta, Joko Pinurbo, Jose Rizal Manua, Goenawan Mohamad, Isbedy Stiawan ZS, JE Tatengkeng, Nirwan Ahmad Arsuka, Nirwan Dewanto, Remy Sylado, Sinansari ecip, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Toety Heraty Nurhadi, dan Yudhistira ANM Massardi.
Dari Sulawesi Selatan, terdapat deretan nama antara lain, Aspar Paturusi, Asdar Muis RMS, Anil Hukma, Asia Ramli Prapanca, Aslan Abidin, Aan Mansyur, Bahar Merdhu, Ho En Dji, Husni Djamaluddin, Mahrus Andhis, M Anis Kaba, Mariati Atkah, Muhary Wahyu Nurba, Nawir Sultan, Udhin Palisuri, dan Yudhistira Sukatanya.
Editor buku ini adalah Maman S Mahayana, akademisi dan kritikus sastra, sedangkan kuratornya terdiri dari penyair kawakan Tanah Air. Mereka adalah Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Rida K Liamsi, Ahmadun Y Herfanda, dan Hasan Aspahani.
Dalam pengantar buku ini dikatakan bahwa Yayasan Hari Puisi merasa perlu menerbitkan buku ASPI dengan tujuan–terutama–memberi apresiasi pada para penyair kita, baik yang baru muncul dan tumbuh berkembang, maupun yang sudah almarhum.
Tujuan lainnya adalah sebagai usaha pendataan, seberapa banyak bangsa Indonesia melahirkan penyair, berapa banyak pula buku puisi yang sudah terbit, bagaimana pula pemetaan penyair kita di berbagai kota di Indonesia, dan seterusnya dan seterusnya (halaman vii-viii).
Nama saya tetap tercantum pada edisi revisi buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia”, yang terbit bulan Desember 2018. Kata “tetap” saya tulis lantaran dalam buku cetakan kedua ini, ada sejumlah nama tak lagi terlihat, dan ada nama-nama baru yang masuk. (*)













