“Walaupun beliau tidak terlahir sebagai suku Dayak, kepeduliannya terhadap budaya Kaltara luar biasa besar. Ke mana pun beliau melakukan kunjungan kerja, pakaian adat selalu dikenakan. Beliau benar-benar figur Bapak Nusantara bagi masyarakat Kaltara,” pungkas Melati.
Perjalanan Melati Ngang memberikan gambaran jelas bahwa upaya memelihara tradisi tidak selalu menuntut aksi besar. Sering kali, pelestarian itu berawal dari jemari seorang perempuan yang sabar menata benang, menyusun manik-manik, dan merawat motif warisan nenek moyang penuh ketulusan. Dari ketekunan itulah identitas Dayak terus mengalir antargenerasi, hingga akhirnya diakui serta dipakai di arena yang lebih luas. (*Rz)












