Siaga1! Kapal Delegasi GPCI Masuki Zona Kuning, Militer Israel Intercep Kapal-kapal Global Sumud Flotila

Jakarta, NusantaraInsight – Puluhan kapal kemanusiaan yang membawa 450 relawan dari berbagai negara tengah berlayar di Laut Lepas Mediterania. Mereka membawa misi kemanusiaan untuk kemerdekaan dan kedamaian Palestina. Namun, sore ini waktu Indonesia, di Media Crisis Center Global Peace Convoi Indonesia (GPCI) yang beralamat di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Jakarta, mendapat informasi terbaru. Kali ini Angkatan Laut Zionis Israel mulai meng-intercepted laju kapal-kapal yang berlayar dalam misi menembus blockade Gaza.

Melihat kondisi tersebut, Koordinator Dewan Pengarah GPCI, Maimon Herawati, mengecam keras tindakan keji tentara Zionis. “Ini menjadi ancaman nyata dari militer zionis yang secara terang-terangan memotong laju kapal berlayar. Di sini, kami mulai mendapat kabar bahwa militer Zionis mulai mencegat kapal-kapal yang berlayar menembus blokade Gaza tersebut. Sekitar jam dua siang tadi, Kapal Tabariyya (Cactus) mendapat intercepted. Ini dapat dikatakan kondisi Siaga 1 bagi para relawan Global Sumud Flotila,” sebut Maimon Herawati.

Sampai saat berita ini ditulis, sebelas kapal dari 61 kapal telah dibajak di laut internasional. Satu kapal dicurigai mungkin dibajak, kapal Joseph yang di dalamnya ada delegasi Indonesia.

BACA JUGA:  Gubernur Kaltara Terima Penghargaan "Anugerah Layanan KUA 2025" ini Kategorinya

Anggota Dewan Pengarah GPCI, Irvan Nugraha menyatakan tindakan Israel menjadi ancaman bagi misi kemanusiaan tersebut. “Ini tindakan yang melanggar hukum humaniter internasional. Mengingat setelah cegatan terhadap Kapal Tarbiyya, tentu juga akan mengancam kapal-kapal lain yang berlayar untuk misi kemanusiaan tersebut,” papar Irvan Nugraha.

Dalam misi tersebut ada beberapa delegasi kemanusiaan dari Indonesia yang tergabung dalam GPCI. Di antaranya gabungan beberapa lembaga kemanusiaan dari Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Aqsa, SMART 171, dan juga jurnalis dari Republika, Inews, dan Tempo.

Sebagai langkah antisipasi terhadap situasi darurat yang mungkin terjadi di laut, GPCI juga telah menyiapkan langkah-langkah kontigensi apabila kapal yang membawa delegasi Indonesia mengalami interception atau penyergapan oleh militer Israel. Hal ini disampaikan Ahmad Juwaini, Anggota Dewan Pengarah GPCI.

“Dalam kondisi tersebut, GPCI akan segera berkoordinasi dengan tim KBRI dan KJRI di sejumlah negara yang menjadi jalur diplomasi utama, yakni Yordania, Mesir, dan Turki. GPCI juga meminta Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri untuk mengupayakan jaminan perlindungan, keselamatan, serta langkah diplomatik maksimal bagi delegasi Indonesia apabila mengalami penyergapan maupun penahanan secara paksa saat menjalankan misi kemanusiaan tersebut. Karena dunia internasional wajib bertindak untuk menghentikan kejahatan perang yang dilakukan Israel,” tambah Ahmad Juwaini.