News  

Ma’REFAT INSTITUTE Bahas Masalah Kemerdekaan Indonesia

Makassar, NusantaraInsight — Ma’REFAT Institute bersama Forum Alumni Sekolah Pemikiran Bung Hatta (FA-SPBH), dan Book Club Alumni SPBH-1, kembali menggelar program Membaca Kembali Bung Hatta seri ke-19 pada Minggu, 14 Juni 2026. Diskusi yang mengangkat topik “Tuntutan Kemerdekaan Indonesia” ini berlangsung di Kantor LINGKAR-Ma’REFAT, Kota Makassar, sejak pukul 14.00 Wita.

Dalam pertemuan kali ini, pemantik yang dihadirkan: Muhammad Ilham Alimuddin, SE., M.Si, Wakil Ketua 3 Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama STIE Tri Dharma Nusantara yang juga Mahasiswa Program Doktoral Pascasarjana UNHAS; dan Dr. Ir. Reza Asra, S.TP., M.P., Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang serta Pembina Komunitas Literasi Anak Bangsa (KLAB) Kabupaten Sidrap.

Dari hasil bacaannya, Ilham Alimuddin menyoroti sikap Pemerintah kolonial Belanda dan sebagian kaum Sosial-Demokrat yang berargumen bahwa Indonesia belum layak merdeka karena belum matang secara ekonomi, pendidikan, dan administrasi. Tingginya angka buta huruf serta keterbatasan tenaga ahli dijadikan alasan untuk menunda kemerdekaan.

Bung Hatta menolak logika tersebut. Menurutnya, argumen “belum matang” bukanlah penilaian objektif, melainkan instrumen politik untuk mempertahankan kolonialisme. Jika kemerdekaan harus menunggu kematangan yang ditentukan penjajah, maka bangsa terjajah tidak akan pernah dianggap siap. Dengan demikian, standar kematangan yang digunakan Belanda bersifat subjektif dan sengaja diciptakan untuk mendelegitimasi tuntutan kemerdekaan, sambung Ilham.

BACA JUGA:  Forkopimda Bulukumba Gelar Patroli Udara

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa Bung Hatta juga melihat sejarah panjang perlawanan rakyat terhadap kolonialisme sebagai bukti bahwa keinginan untuk merdeka bersifat kolektif. Perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, dan berbagai gerakan perlawanan lainnya menunjukkan bahwa hasrat untuk bebas dari penjajahan telah hidup jauh sebelum munculnya organisasi politik modern.

Reza Asra lalu melanjutkan dengan menjelaskan tentang tesis utama Bung Hatta mengenai solidaritas internasional, yang sering kali berhenti ketika berhadapan dengan kepentingan nasional. Banyak Partai Buruh dan Partai Sosialis Eropa mengaku mendukung kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah. Tetapi ketika kepentingan ekonomi negaranya terancam, dukungan tersebut melemah atau bahkan hilang. Dengan kata lain, menurut Bung Hatta: Solidaritas diuji bukan ketika tidak ada risiko, tetapi ketika harus mengorbankan kepentingan sendiri.

Pelajaran yang diambil Bung Hatta cukup penting. Ia mulai menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dapat digantungkan sepenuhnya pada belas kasihan kaum sosialis Eropa. Walaupun ada dukungan dari sebagian kalangan progresif Barat, nasib Indonesia pada akhirnya harus ditentukan oleh perjuangan rakyat Indonesia sendiri. Karena itu fokus Bung Hatta bergeser dari harapan terhadap solidaritas internasional menuju pembangunan kekuatan nasional yang mandiri, Tegas Reza.