Sementara kapasitas pengangkutan sampah yang dimiliki pemerintah baru mampu menjangkau sekitar 67 persen dari total timbulan sampah tersebut.
Kondisi itu menjadi tantangan besar yang tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendirian tanpa dukungan seluruh pemangku kepentingan.
“Masih banyak sampah yang belum tertangani. Karena itu kita membangun kolaborasi lintas sektor dan lintas perangkat daerah agar tercipta ekosistem yang mampu menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh,” jelasnya.
Appi juga mencontohkan, upaya pemilahan sampah yang telah dilakukan sejumlah komunitas hingga tingkat RT harus dibarengi dengan sistem pengangkutan yang sesuai agar sampah yang sudah dipilah tidak kembali tercampur saat diangkut.
Munafri juga menegaskan bahwa kampanye pengelolaan sampah harus dilakukan secara terus-menerus dan menjadi gerakan harian yang konsisten.
“Kampanye ini tidak boleh berhenti. Masyarakat harus memahami bahwa apa yang kita lakukan hari ini bukan hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi untuk masa depan,” imbuh Munafri.
Sebagai bentuk komitmen, Pemkot Makassar juga akan menerapkan sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment) dalam berbagai kegiatan dan event yang digelar di Kota Makassar.
Setiap penyelenggara kegiatan akan didorong untuk menerapkan pengelolaan sampah yang baik dan tidak meninggalkan sampah setelah acara berakhir.
“Jika dilakukan secara bersamaan, tentu akan menghasilkan lautan sampah plastik. Ini yang harus kita ubah,” tuturnya.
Selain pemilahan sampah, Munafri juga mendorong pengembangan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah organik menjadi kompos dan hasil pengolahan lainnya yang bernilai ekonomi.
Ia menjelaskan bahwa program teba yang mulai dijalankan di berbagai wilayah diharapkan mampu menghasilkan kompos yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan urban farming.
Hasil urban farming tersebut selanjutnya dapat dipasarkan melalui berbagai saluran, seperti pasar tani, program Makan Bergizi Gratis (MBG), maupun kelompok-kelompok masyarakat dan komunitas lokal.
“Ini harus menjadi siklus yang tidak boleh berhenti. Sampah organik yang dikelola dengan baik akan kembali menjadi sumber manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Munafri menambahkan, saat ini pemerintah telah menyediakan berbagai pilihan teknologi dan metode pengolahan sampah, mulai dari teba, eco enzyme, urban farming, hingga pengolahan sampah menjadi bahan bakar melalui teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).
Menurutnya, berbagai metode tersebut dapat dipilih dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.













