“Yang kita harapkan, bantuan fasilitas seperti ini bukan hanya untuk musim kemarau. Karena masyarakat Utara Kota kalau kita lihat, persoalan susah air ini sudah bertahun-tahun,” katanya.
Selain penyediaan tandon dan distribusi air melalui kerja sama dengan Pemkot Kota Makassar, BAZNAS juga mendorong pembangunan sarana air bersih melalui sumur bor di lokasi yang memungkinkan.
Ia menjelaskan, untuk mendapatkan sumber air tanah yang layak konsumsi di sejumlah wilayah Makassar, diperlukan pengeboran hingga kedalaman lebih dari 100 meter, bahkan bisa mencapai sekitar 200 meter.
Kondisi tersebut membuat pembangunan satu titik sumur bor membutuhkan anggaran yang cukup besar, diperkirakan mencapai sekitar Rp150 juta.
“Untuk mendapatkan air yang layak untuk dikonsumsi, kedalamannya bisa sampai 200 meter,” ungkapnya.
Salah satu program sumur air bersih yang telah berjalan berada di RW 4 Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea.
Sarana tersebut mulai digunakan sejak Februari dan disebut telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat setempat.
Sumur tersebut memiliki kedalaman lebih dari 100 meter dan menjadi solusi bagi warga yang sebelumnya harus menghadapi antrean maupun kesulitan memperoleh air, terutama saat musim kemarau.
“Alhamdulillah masyarakat sekarang sangat merasakan. Mereka tidak lagi terpapar antrean air di sana. Cukup, dan itu luar biasa,” kata Usman.
Menurutnya, pembangunan sarana air bersih di Bira tersebut merupakan dukungan BAZNAS Pusat.
Keberadaan fasilitas itu membuat masyarakat tidak terlalu terdampak ketika terjadi kelangkaan air.
Karena itu, BAZNAS Kota Makassar berupaya memperbanyak titik layanan air bersih melalui dukungan berbagai pihak, termasuk mengusulkan program kepada pemerintah maupun BAZNAS Pusat.
“Yang di Tamalanrea itu lebih dari 100 meter, dari BAZNAS Pusat. Luar biasa memang. Masyarakat Tamalanrea dulu sepanjang masa kekurangan air, apalagi kalau musim kemarau,” tuturnya.
“Sekarang dengan fasilitas ini mereka tidak terlalu terpengaruh dengan kelangkaan air,” tambah dia.
Untuk program tandon, BAZNAS tidak hanya menyediakan wadah penampungan air. Fasilitas tersebut juga dapat dilengkapi mesin sehingga bisa langsung dimanfaatkan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, BAZNAS menyiapkan tandon, sementara suplai air dilakukan melalui kerja sama dengan PDAM.
“Jadi titik-titik yang kita support dengan tandon, kita siapkan tandonnya, PDAM kita minta untuk mengisi air. Arahannya Pak Wali seperti itu,” jelasnya lagi.
Usman mengatakan, evaluasi terhadap program tersebut juga akan dilakukan dengan memperbaiki pendataan penerima manfaat.












