Log Zhelebour Soroti Lesunya Musik Rock di Era Digital, Siapkan Kontes Band Berbasis Live Streaming

Ia memproyeksikan, eskalasi persoalan ini akan memicu gelombang tuntutan hukum agar para pengelola platform streaming segera melakukan pembersihan (takedown) terhadap lagu-lagu berbasis AI yang melanggar hak cipta serta merusak ekosistem ekonomi para pencipta karya original.

Siapkan Kontes Musik Rock melalui Live Streaming

Merrespons berbagai tantangan berat di era digital tersebut, Log Zhelebour membocorkan rencananya untuk merancang sebuah ajang kompetisi pencarian bakat musik rock spektakuler—yang diproyeksikan sebagai ajang mahakarya terakhirnya di panggung penyelenggaraan event musik tanah air.

Dalam rancangannya, kompetisi bergengsi ini akan membagi medan persaingan ke dalam dua kategori utama, yakni kategori musisi internasional dan musisi lokal.

Mengusung adaptasi zaman, ajang ini meninggalkan pola kompetisi konvensional dengan mengadopsi format live streaming secara penuh melalui platform YouTube serta kanal digital siaran langsung lainnya secara interaktif.

Lewat terobosan visual tersebut, masyarakat tidak sekadar menjadi penonton pasif, melainkan dilibatkan langsung untuk menyaksikan performa para peserta sekaligus berpartisipasi memberikan apresiasi berdasarkan respons dan jumlah pemirsa (viewership).

BACA JUGA:  Sineas Muda Bertandang ke Redaksi BugisPos Bahas Film Profil Daerah

“Dewan juri profesional akan membedah dan menilai aspek komposisi serta kualitas teknik penampilan para peserta. Namun, untuk menentukan karya atau grup band mana yang paling memikat hati publik, sepenuhnya kami serahkan pada penilaian masyarakat melalui indikator jumlah penonton serta daya tarik angka view,” beber Log.

Melalui formula anyar ini, Log Zhelebour menaruh harapan besar agar gerbang popularitas kembali terbuka lebar bagi pencipta lagu dan band rock lokal untuk melambungkan karya terbaik mereka ke panggung publik yang jauh lebih meluas.

Ia turut menegaskan bahwa agenda besar ini kemungkinan besar bakal menjadi titik balik sekaligus tirai penutup dari jejak panjang dedikasinya sebagai promotor dan penyelenggara event musik nasional.

Jadikan Event Terakhir sebagai Penutup Perjalanan

Log memaparkan bahwa keputusannya untuk cukup lama vakum dari hiruk-pikuk panggung musik didasari oleh pilihannya untuk menepi di tengah arus transisi industri musik menuju era serba digital.

Oleh sebab itu, agenda kompetisi berbasis live streaming yang sedang dirancangnya ini mengusung bobot emosional dan makna personal yang sangat mendalam baginya, yakni sebagai panggung pengabdian terakhir untuk memfasilitasi talenta-talenta muda berbakat.

BACA JUGA:  Grand Final: Siapa The Next Indonesian Idol XIII

Meski demikian, sang promotor kawakan ini masih menyimpan rapat rincian teknis terkait jadwal pasti pelaksanaannya maupun mekanisme pendaftaran bagi para calon peserta.

Langkah ini menegaskan komitmen lahiriah Log Zhelebour dalam membendung kepunahan regenerasi band rock, memberi panggung layak bagi karya manusia asli di tengah gempuran tren musik populer dan ancaman teknologi AI.

Di sela-sela bincang-bincang santai tersebut, Log memanfaatkan momen kehadirannya di Makassar untuk bernostalgia bersama sahabat lamanya, James Wehantouw—wartawan senior yang sejak tahun 1985 dipercayakan menjadi mitra Event Organizer (EO) andalan bagi seluruh perhelatan tur konser dan festival musik garapan Log di wilayah Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tenggara.

Dimintai pandangannya mengenai sosio-rekam jejak Log Zhelebour, James yang kini mengemban amanah sebagai Bendahara PWI Sulsel sekaligus Pemimpin Redaksi/Perusahaan dua media digital (Pedomanrakyat.co.id dan Sorotmakassar.com) mengenang bagaimana sang promotor mengawali kariernya sebagai DJ diskotik pada era akhir 1970-an, sebelum menjelma menjadi empu penyelenggara konser rock dan produser rekaman kawakan.