Idealisme, Komersialisme dan Profesionalisme

Idealisme, Komersialisme dan Profesionalisme

Selanjutnya dibahas tiga pilar penyangga pers, sebagai berikut (Taufik Ahyar dalam Intizar. Vol.1 No. 21. 2015):

1.Idealisme
Untuk bisa memenuhi amanah pasal 6 UU Pokok Pers No. 40/1999, pers harus bersifat “galak dan tegas” dalam menjalankan fungsinya sebagai komunikator informasi publik, menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia. Lebih dari itu, pers juga dituntut untuk melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, serta memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Menurut AS Sumandiria (2006: hal. 46), idealisme sendiri adalah cita-cita, obsesi, sesuatu yang terus dikejar untuk bisa dijangkau dengan segala daya dan cara yang dibenarkan menurut etika dan norma profesi yang berlaku serta diakui oleh masyarakat dan negara. Jadi idealnya, seorang jurnalis harus berjuang mempertahankan idealismenya dengan berbagai cara dalam menggapai cita-cita yang tertuang dalam UU Pokok Pers.

2.Komersialisme
Pers tidak cukup hanya mempunyai idealisme. Sebagai lembaga ekonomi, pers harus dijalankan dengan merujuk pada pendekatan dan kaidah ekonomi, efisiensi, dan produktivitas. Secara manajerial, Perusahaan pers harus memetik keuntungan dan sejauh mungkin menghindari kerugian. Dalam kerangka ini, apa pun sajian pers tak akan bisa dilepaskan dari muatan nilai bisnis komersial sesuai dengan pertimbangan dan tuntutan pasar. Dengan berpijak pada nilai-nilai komersial, penerbitan pers bisa secara konsisten mencapai cita-cita yang ideal.

BACA JUGA:  Postur APBN Akhir Februari 2025

Hal itu dipertegas oleh pasal 3 ayat (2) UU Pokok Pers No. 40/1999, yang menyatakan pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Sesuai dengan prinsip ekonomi, pers harus mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya.

Mohammad Shoelhi dalam bukunya Komunikasi Internasional, Perspektif Jurnalistik, mengemukakan idealisme tanpa komersialisme hanyalah ilusi. Karena jika pers mengutamakan segi idealisme saja, pers tidak akan hidup lama. Sedangkan jika perusahaan pers hanya mengutamakan segi komersialisme, pers hanya akan menjadi budak bagi pembanyarnya. Kedua hal ini bisa bersatu dengan dibantu oleh topangan profesionalisme.

3.Profesionalisme
Menurut Alex Sobur dalam Etika Pers: Profesionalisme dengan Nurani, ada lima hal menjadi struktur sikap yang diperlukan bagi setiap jenis profesi yang tercakup dalam profesionalisme.

Pertama, professional dalam menggunakan organisasi atau kelompok professional sebagai kelompok referensi utama. Tujuan-tujuan dan aspirasi professional bukan diperuntukkan bagi seorang majikan atau status lokal dari masyarakat setempat, kesetiaannya adalah pada bidang tugas.

Kedua, profesional dalam melayani masyarakat dengan baik. Ia alturuistik yang mengutamakan kepentingan umum. Ketiga, professional dalam mengemban kepedulian dan rasa terpanggil dalam bidang tugasnya. Komitmen ini memperteguh tanggung jawabnya dalam melayani masyarakat. Ia melaksanakan profesinya karena merasakan komitmen yang mendalam.

BACA JUGA:  Penyerahan Piagam Taxpayers’ Charter, KPP Pratama Bantaeng Kepada Wajib Pajak di Takalar

Keempat, profesional dalam memelihara rasa otonomi. Ia bebas mengorganisasi pekerjaannya saat berada dalam kendala-kendala tertentu dan mengambil keputusan-keputusan profesional.

Kelima, profesional dalam mengatur dirinya sendiri dan mengontrol perilakunya sendiri. Dalam menghadapi kerumitan dan persyaratan keterampilan, hanya rekan-rekan seprofesinya yang mempunyai hak dan wewenang untuk melakukan penilaian.

Penutup

Sebagai simpulan berikut beberapa catatan penting yang diurai Taufik Ahyar. Pertama, pers sebagai organisasi tidak dapat dipisahkan dengan penerapan manajemen, baik sebagai ilmu maupun sebagai seni agar dapat mencapai tujuan per itu sendiri. Kedua, keberadaan dan dinamika pers saat ini tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan pers masa lalu, yang di era sekarang mengarah kepada lembaga ekonomi dan kemasyarakatan yang cenderung mengedepankan komersialisasi dan sedikit mengabaikan idealitas.