Catatan Manajemen: Perpustakaan Lembah Hijau

Bisnis

Bisnis atau juga dapat disebut sebagai sektor swasta pada konteks pengembangan desa wisata ini dapat berperan sebagai enabler. Sektor swasta merupakan entitas yang melakukan proses bisnis dalam menciptakan nilai tambah dan mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan. Dalam hal ini, sektor swasta dapat berperan sebagai enabler di dalam menghadirkan infrastruktur teknologi, modal, dan berbagai fungsi lainnya yang berkaitan dengan pengembangan produk dan pemasaran dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat sebagai subjek perubahan sosial itu sendiri.

Komunitas

Pada konteks ini, komunitas dapat berperan sebagai akselerator. Di sini komunitas merupakan orang-orang yang memiliki minat yang sama dan relevan dengan pengembangan potensi yang akan dikembangkan. Bertindak sebagai perantara atau menjadi penghubung antar pemangku kepentingan untuk membantu masyarakat dalam keseluruhan proses dan memperlancar proses usahanya. Selain itu, komunitas juga memiliki peran untuk mempromosikan produk atau layanan yang diproduksi oleh masayarakat.

Pemerintah

Pemerintah dalam hal ini harus berperan sebagai regulator sekaligus kontroler yang memiliki peraturan dan tanggung jawab dalam perubahan sosial yang terjadi. Dalam hal ini, peran pemerintah melibatkan semua jenis kegiatan seperti perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, pengendalian, promosi, alokasi keuangan, perizinan, pengembangan dan pengetahuan, kebijakan inovasi publik, dukungan untuk jaringan inovasi, dan kemitraan antara sektor publik dengan swasta. Pemerintah juga memiliki peran sebagai koordinator bagi para pemangku kepentingan yang berkontribusi pada hal yang ingin dicapai oleh masyarakat.

BACA JUGA:  Kadin Sulsel akan Promosikan KEK Bira - Takabonerate Lewat PSBM XXIV

Media

Media dalam konteks pengembangan desa wisata juga menjadi penting karena perannya sebagai expender. Media berperan dalam mendukung publikasi dalam promosi produk dan layanan yang dihasilkan oleh masyarakat yang ingin melakukan perubahan. Tidak hanya itu, media juga berfungsi untuk membangun brand image dari perubahan tersebut. Sehingga orang lain dapat lebih mudah untuk mengakses informasi tentang perubahan yang sedang dilakukan oleh masyarakat. Kemudahan akses informasi itulah yang kemudian menjadi salah satu faktor pendukung bagi datangnya para kolaborator baru yang bisa mendukung perubahan yang sedang dilakukan oleh masyarakat.

Uniknya, dulunya tempat ini dikenal sebagai destinasi wisata Lembah Hijau Ijobalit. Dari Kawasan yang tandus dan bekas tambang galian C menjadi alternatif wisata baru seluas kurang lebih 12 hektar. Alamnya sejuk menghijau. Sehingga melekat dalam ingatan sebagai eco tourism berbasis pendidikan alam.

“Namun, sejak 2018, tepatnya saat terjadi gempa Lombok, tempat ini pun ditutup dari kunjungan wisatawan,” ujar Miq Abdul Fatah.***

AKUAIR-Perumnas Ampenan, 10-12-2024