NusantaraInsight, Makassar — Banyak organisasi runtuh bukan karena kekurangan program, melainkan karena kelelahan kepercayaan. Anggota lelah bertanya, publik lelah menunggu, dan pengurus sering kali berlindung di balik istilah “internal”. Di titik inilah transparansi berhenti menjadi etika, dan berubah menjadi sekadar slogan.
Rabu, 14 Januari 2026, di Gedung ALFI Jalan Nusantara, sebuah rapat digelar sejak pukul 12.00 hingga selesai. Agenda resminya terdengar biasa: konsolidasi organisasi dan laporan pertanggungjawaban April–Desember 2025. Namun substansinya justru menunjukkan sesuatu yang jarang, keberanian membuka diri.
Rapat dibuka oleh H. Hatta, Sekretaris Umum ALFI, dengan pesan yang lugas dan tidak berputar-putar. Organisasi, katanya, tidak akan bertahan lama jika soliditas hanya dibangun lewat kedekatan personal, tanpa disiplin struktur dan keterbukaan pengelolaan. Di sini, rapat tidak diperlakukan sebagai formalitas, tetapi sebagai forum pertanggungjawaban.
Ketua Umum ALFI, H. Yodi Nalendra, kemudian menyampaikan laporan umum organisasi dengan fokus utama pada tata kelola keuangan. Yang membuatnya berbeda bukan hanya data yang disajikan, melainkan cara berpikir di baliknya. Laporan keuangan tidak ditempatkan sebagai dokumen akhir, melainkan sebagai proses berlapis: bulanan, triwulanan, hingga tahunan. Transparansi tidak dimaknai sebagai keberanian sesaat, tetapi sebagai sistem yang harus berjalan terus-menerus.
Di tengah kenyataan bahwa banyak organisasi lain masih berada dalam wilayah gelap laporan keuangan yang kabur, pertanggungjawaban yang selalu tertunda, dan keputusan yang sulit dilacak ALFI di bawah kepemimpinan Yodi justru mengambil jalur sebaliknya.
Membuka angka, membuka proses, dan membuka ruang kritik. Sebuah pilihan yang tidak populer, tetapi justru itulah ciri organisasi yang matang. ALFI mulai menunjukkan bahwa transparansi bukan ancaman, melainkan kekuatan. Dan dalam konteks ini, ia layak menjadi rujukan bagi organisasi lain.
Keberanian itu ditopang oleh kerja nyata. Aktivitas ALFI Sulselbar tidak berhenti pada rapat dan laporan. Berbagai kegiatan seminar, pelatihan, hingga program supporting bagi anggota secara konsisten dipublikasikan melalui kanal daring resmi organisasi. Di sini, keterbukaan tidak berhenti di meja rapat, tetapi berlanjut dalam jejak digital yang bisa diperiksa siapa saja.
Bendahara Umum, Ibu Iriana, memaparkan laporan keuangan secara transparan dan detail per bulan. Tidak disederhanakan demi kenyamanan, tidak disamarkan demi keamanan. Pendampingan dari Ibu Muli, dosen akuntansi, mempertegas satu hal: ALFI sedang berusaha menempatkan keuangan organisasi di wilayah profesional, bukan sekadar kebiasaan.












