Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator Perkumpulan Puisi Indonesia SATUPENA Sulawesi Selatan)
_”Sejarah yang sejati, dan peristiswa bersejarah apa pun, pada hakikatnya adalah sebuah puisi dari peristiwa-peristiwa besar.”_ (Thomas Carlyle, sejarawan dan penulis Skotlandia)
Makassar, NusantaraInsight — Menulis puisi dengan latar sejarah, tentu berbeda dengan hanya sekadar menulis puisi sebagai ungkapan perasaan semata. Pada puisi dengan muatan sejarah yang kental, penulis mesti memperhatikan akurasi data dengan membaca terlebih dahulu referensi yang merujuk pada sumber-sumber primer. Penulis juga mesti mengetahui alur cerita, kronologi peristiwa, dan konteks zaman yang menjadi sumber ide dan tema puisi.
Inilah tantangan yang dirasakan oleh sejumlah teman yang diajak menulis antologi puisi Syekh Yusuf. Penulisan buku antologi puisi ini bertolak dari momen Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari (1626—2026), yang resmi disahkan dalam Sidang Umum UNESCO ke-43 sebagai bagian dari UNESCO Anniversary 2026. Perayaan ini merupakan pengakuan internasional atas warisan pemikiran sang ulama pejuang, sekaligus tokoh perdamaian lintas benua. Syekh Yusuf begitu dihormati di Indonesia, Sri Lanka, dan Afrika Selatan.
Penulisan antologi puisi Syekh Yusuf ini membuat para penulis yang diajak perlu melakukan pembacaan, penafsiran, dan pemaknaan terhadap historiografi Syekh Yusuf sebagai pribadi dengan identitas kultural Makassar, juga sebagai aktor sejarah berikut lanskap peristiwa yang beririsan dengannya. Ada teks dan konteks, yang dikontraksikan atas rangkaian perjalanan hidupnya, yang menjadi inspirasi dan pembelajaran, khususnya bagi masing-masing penulis, dan untuk generasi mendatang.
Penulisan puisi berlatar belakang sejarah, sesungguhnya punya beberapa kekuatan, yakni (1) kekuatann pengungkapan (revealing). Misalnya, menyingkap sesuatu yang terlupakan supaya lebih terdengar dan menggetarkan; (2) kekuatan penciptaan (creating). Misalnya, menghidupkan karakter tokoh agar lebih ekspresif-dramatis, sehingga mewujud monumen karya sastra; dan (3) kekuatan penafsiran (interpreting), maksudnya penyair bukan saja melihat apa yang terjadi, tetapi lebih dalam lagi mengulik arti peristiwa tersebut.
Lewat puisi, penulis merasakan kegigihan, harga diri, sikap pantang kompromi terhadap kezaliman, perjuangan untuk nilai-nilai kemanusiaan, serta spiritualitas keagamaan yang menjadi fondasinya. Harus diakui, ketika diajak menulis antologi puisi Syekh Yusuf sebagai tema sentral karya, maka sesungguhnya kita diajak melakukan napak tilas sejarah, melihat Kerajaan Gowa-Tallo sebagai pusat pemikiran, gerakan politik dan perlawanan, serta budaya Makassar yang kukuh pada filosofi sirik na pacce.












