Sebagai inisiator penulisan buku antologi puisi ini, Prof. Dr. H. Muhammad Hamdar Arraiyyah, M.Ag. dalam beberapa kesempatan mengemukakan bahwa kita selalu mengaku bangga pada Syekh Yusuf. Akan tetapi, apa yang kita lakukan sebagai wujud kebanggaan, penghormatan, dan cinta kita pada Tuanta Salamaka? Kalimat Guru Besar yang tumbuh dalam tradisi peneliti itu, seperti menggugat kesadaran kritis kita untuk berbuat sesuatu sebagai bentuk apresiasi atas legacy yang telah ditinggalkan Syekh Yusuf, bukan hanya bagi Sulawesi Selatan dan Indonesia, melainkan juga bagi dunia.
Menariknya, penyusunan antologi puisi Syekh Yusuf ini, tidak sekadar mengumpulkan naskah dari para penulis, yang berlatar belakang beragam: penyair, sastrawan, perupa, seniman, guru, akademisi, jurnalis, dan penggiat literasi. Akan tetapi, ada proses review, diskusi, dan kurasi partisipatif, dengan muatan kritik sastra yang diakui oleh beberapa teman, turut membuka perspektif mereka terkait penulisan puisi bernuansa sejarah. Diskusi dilakukan secara santai, akrab, dalam suasana silaturahmi dan ngopi bareng di kafe atau resto, yang kadang ditutup dengan santap siang bersama.
Kami juga melakukan kunjungan ke Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG) di Kabupaten Takalar, milik Prof. Dr. H. Aminuddin Salle Daeng Patoto. Di Baruga Pusakaya—salah satu bangunan di area kampung adat, budaya, dan konstitusi itu—kami melihat struktur silsilah keturunan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari, yang tersebar di Sulawesi Selatan, mencakup Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, Bone, Wajo, Enrekang, Luwu, dan Pinrang (Sawitto). Kami bahkan mendengar hikayat Syekh Yusuf, yang dituturkan secara fasih oleh Muhammad Hijaz Daeng Temba, salah seorang keturunan Syekh Yusuf, yang diakui bersumber dari naskah kuno milik keluarga.
Sungguh, saya menikmati semua tahapan dan proses tersebut. Saya yakin, teman-teman yang lain juga merasakan manfaat selama proses penyusunan buku antologi puisi ini. Bagaimana tidak, Prof. Hamdar Arraiyyah banyak memberikan semacam tausiah tentang dua pilar penting ajaran Syekh Yusuf, yakni Husnul Khuluq (akhlak mulia yang sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk Allah), dan Husnul Adab (perilaku mulia, yang berakar pada pemahaman bahwa semua makhluk mencerminkan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang indah). Menurutnya, Syekh Yusuf merupakan ulama besar Nusantara pada abad ke-17, setara dengan Syekh Nuruddin ar-Raniri (w. 1658), dan Syekh Abdul Rauf Singkel (Teungku Syiah Kuala) (w. 1693).
Boleh dikata, selama proses penyusunan buku Spirituality and Liberation: A Poetry Anthology for the 400th Anniversary of Shaykh Yusuf telah membawa kami melintasi terowongan waktu (time tunnel) sejarah, memperkaya khazanah keilmuan, dan lebih reflektif dalam penciptaan karya sastra, dalam hal ini puisi. Semangat melahirkan sebuah buku bersama secara kolektif kolegial dikedepankan dengan tetap menghargai gagasan, stilistika, dan privilese ruang batin penulis, yang merupakan identitasnya sebagai penyair.












