Kami juga melakukan kunjungan ke Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG) di Kabupaten Takalar, milik Prof. Dr. H. Aminuddin Salle Daeng Patoto. Di Baruga Pusakaya—salah satu bangunan di area kampung adat, budaya, dan konstitusi itu—kami melihat struktur silsilah keturunan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari, yang tersebar di Sulawesi Selatan, mencakup Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, Bone, Wajo, Enrekang, Luwu, dan Pinrang (Sawitto). Kami bahkan mendengar hikayat Syekh Yusuf, yang dituturkan secara fasih oleh Muhammad Hijaz Daeng Temba, salah seorang keturunan Syekh Yusuf, yang diakui bersumber dari naskah kuno milik keluarga.
Sungguh, saya menikmati semua tahapan dan proses tersebut. Saya yakin, teman-teman yang lain juga merasakan manfaat selama proses penyusunan buku antologi puisi ini. Bagaimana tidak, Prof. Hamdar Arraiyyah banyak memberikan semacam tausiah tentang dua pilar penting ajaran Syekh Yusuf, yakni Husnul Khuluq (akhlak mulia yang sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk Allah), dan Husnul Adab (perilaku mulia, yang berakar pada pemahaman bahwa semua makhluk mencerminkan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang indah). Menurutnya, Syekh Yusuf merupakan ulama besar Nusantara pada abad ke-17, setara dengan Syekh Nuruddin ar-Raniri (w. 1658), dan Syekh Abdul Rauf Singkel (Teungku Syiah Kuala) (w. 1693).
Boleh dikata, selama proses penyusunan buku Spirituality and Liberation: A Poetry Anthology for the 400th Anniversary of Shaykh Yusuf telah membawa kami melintasi terowongan waktu (time tunnel) sejarah, memperkaya khazanah keilmuan, dan lebih reflektif dalam penciptaan karya sastra, dalam hal ini puisi. Semangat melahirkan sebuah buku bersama secara kolektif kolegial dikedepankan dengan tetap menghargai gagasan, stilistika, dan privilese ruang batin penulis, yang merupakan identitasnya sebagai penyair.
Sebuah kesyukuran, SATUPENA Sulawesi Selatan menjadi bagian dari proses penyusunan buku yang diniatkan sejak awal sebagai bentuk penghargaan kepada Syekh Muhammad Yusuf Abul Mahasin bin Abdullah Tajul Khalwati al-Makassary—ulama yang mengajarkan tasawuf dan mengamalkan tarekat, yang punya tempat tersendiri di kalangan sufi. Dengan demikian, buku ini bukan hanya untuk mengenang Syekh Yusuf, melainkan sebentuk rasa cinta dalam wujud karya dan literasi sastra.
“Kalau orang Makassar tidak mengikuti jejak Syekh Yusuf, dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga,” imbuh Prof. Hamdar Arraiyyah, suatu ketika. (*)
Gowa, 3 Juli 2026
Prolog buku Spirituality and Liberation: A Poetry Anthology for the 400th Anniversary of Shaykh Yusuf, karya Muhammad Hamdar Arraiyyah, et el., diterbitkan Pustaka Taman Ilmu, Makassar, September 2026












