Rekreasi Sastra di Pantai Biru: MENCARI KEDALAMAN PUISI

Oleh: Anwar Nasyaruddin (Apresiator Sastra)

 

Makassar, NusantaraInsight — Sabtu, 12 September 2026, acara sastra hadir dengan cara berbeda di kawasan wisata Pantai Biru, Barombong, Makassar. Di tengah suasana rekreasi dan hamparan pasir tepi laut, Forum Sastra Indonesia Timur (Fosait) bersama Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) melaksanakan peluncuran sekaligus diskusi buku antologi puisi ‘Selayar Berlayar’. Kegiatan ini menghadirkan Anil Hukma sebagai pembahas dan Anwar Nasyaruddin sebagai moderator.

Sejumlah anggota Fosait dan IPMI, para penulis, serta pemerhati sastra hadir dalam kegiatan yang sengaja dikemas sebagai bagian dari rekreasi sastra. Di tempat rekreasi itu, sastra ditempatkan sebagai kegiatan yang luwes. Para peserta dapat menikmati suasana pantai sekaligus berbicara tentang puisi, pengalaman kepenyairan, dan persoalan kualitas karya. Pola rekreasi sastra ini kerap dilakukan Fosait dan IPMI.

Pilihan kawasan wisata Pantai Biru sebagai tempat kegiatan bukan sekadar persoalan tempat. Pasir tepi laut dan suasana terbuka menjadi ruang yang selaras dengan tema buku yang dibicarakan. ‘Selayar Berlayar’ membawa imajinasi para penulis kepada Selayar, sebuah kabupaten kepulauan yang identik dengan laut, pulau-pulau, perjalanan, dan kehidupan masyarakat pesisir.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ombak Laut': PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Presiden Fosait sekaligus Ketua IPMI, Muhammad Amir Jaya, dalam pengantarnya berterima kasih atas kehadiran para peserta. Ia menjelaskan penerbitan antologi ‘Selayar Berlayar’ merupakan bagian dari agenda IPMI untuk terus mendorong produktivitas sastra. Komunitas penulis ini berusaha menerbitkan sedikitnya satu buku sastra setiap bulan. Antologi ini memuat 45 puisi karya 30 penulis, yang seluruhnya merupakan anggota Fosait dan IPMI. Penerbitan buku ini menjadi dokumentasi karya, dan salah satu cara menjaga keberlangsungan tradisi menulis di lingkungan komunitas sastra.

Setelah peluncuran, dilanjutkan diskusi dimulai dengan pertanyaan mendasar, apakah setiap tulisan yang berbentuk puisi dengan sendirinya dapat disebut puisi? Anil Hukma melihat para penulis puisi dalam buku ini, telah mampu menangkap imajinasi tentang Selayar dan mengolahnya menjadi berbagai puisi dengan kualitas yang beragam. Keragaman itu, menurutnya, merupakan sesuatu yang wajar dalam sebuah antologi. Namun, justru di situlah pentingnya proses belajar bagi seorang penyair, terutama bagi penulis muda. Ia mendorong agar mereka memperluas pengetahuan, termasuk mempelajari filsafat, sebab kedalaman pemikiran dapat membantu puisi bergerak dari sekadar ungkapan menuju perenungan yang lebih matang dan bijaksana.