Bagi Anil Hukma, kemampuan menulis puisi tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang pendidikan atau luasnya pengetahuan seorang penulis. Yang penting adalah punya kedalaman pengalaman rasa, pengalaman puitik, dan kepekaan batin. Seorang penyair harus mampu menghayati pengalaman hidup sebelum mengubahnya menjadi bahasa. Karena menulis puisi mempunyai tanggung jawab moral, di dalam sebuah puisi terdapat identitas penulis, cara pandangnya terhadap kehidupan, serta proses penghayatan terhadap realitas. Ia mengingatkan bahwa teori sastra perlu dibaca dan dipelajari, sebagai bekal agar seorang penulis memahami apa yang sedang dikerjakannya.
Diskusi kemudian membahas persoalan kualitas karya dalam buku antologi ‘Selayar Berlayar’. Anil Hukma secara terbuka mengatakan bahwa dalam buku tersebut terdapat karya yang sudah menjadi puisi, tetapi ada pula tulisan yang menurutnya masih menyerupai pamflet. Pernyataan itu menjadi salah satu bagian penting dalam diskusi karena mengingatkan bahwa tema yang menarik, judul yang puitis, atau penggunaan kata-kata tertentu belum otomatis menjadikan sebuah tulisan sebagai puisi. Karena puisi membutuhkan pengolahan bahasa, pengalaman puitik, kedalaman, serta ruang tafsir. Untuk itu, ia mengingatkan pentingnya membangun ‘lanskap puisi’, yakni ruang kreatif yang memungkinkan setiap penyair menemukan identitas dan kekuatan estetiknya sendiri.
Persoalan kecerdasan buatan atau AI juga tidak luput dari pembicaraan. Di era ketika teknologi dapat membantu menghasilkan teks dengan cepat, menurut Anil, seorang penulis tetap harus memiliki kemampuan dan pengalaman kreatifnya sendiri. AI semestinya ditempatkan sebagai pembanding, bukan sebagai pengganti proses kepenyairan. Seorang penulis tidak seharusnya menulis terlebih dahulu dengan bantuan AI lalu menjadikan hasilnya sebagai ukuran karya. Yang penting adalah membangun kemampuan membaca, mengalami, merasakan, mengolah imajinasi, kemudian melahirkan karya dari dalam dirinya sendiri. Teknologi boleh berkembang, tetapi kepenyairan tetap membutuhkan manusia dengan pengalaman dan kepekaan batinnya.
Pandangan tersebut mendapat penguatan dari Yudistira Sukatanya, salah seorang penulis senior yang hadir sebagai peserta. Ia menyampaikan sebuah peringatan sederhana tetapi penting, ‘Jangan menulis tanpa ilmu.’ Menurutnya, salah satu persoalan dalam dunia kepenulisan adalah keinginan untuk menghasilkan karya tanpa disertai kemauan memperluas pengetahuan. Seberapa baik pun seseorang menulis, pengetahuan tetap diperlukan untuk mempertajam kemampuan.










