Rekreasi Sastra di Pantai Biru: MENCARI KEDALAMAN PUISI

Sementara itu, Mahrus Andis, seorang kritikus sastra menilai Fosait telah dikenal secara nasional karena anggotanya merupakan para penulis yang aktif berkarya. Ia menunjuk hadirnya dua penulis nasional yang memberikan pengantar dalam antologi ‘Selayar Berlayar’ sebagai salah satu bukti bahwa karya komunitas tersebut telah memiliki jejaring yang lebih luas. Menurutnya, penyair perlu terus menemukan sesuatu yang baru, bukan hanya dalam persoalan diksi, tetapi juga dalam tema dan cara pengucapan.

Mahrus Andis juga menegaskan bahwa semua orang mungkin dapat menulis puisi, tetapi tidak semua tulisan yang disebut puisi otomatis memiliki kualitas sebagai puisi. Karena itu, pengetahuan teori sastra tetap dibutuhkan. Ia menilai puisi yang baik semestinya memiliki misteriusitas, sebuah ruang yang membuat pembaca tidak selesai hanya dalam sekali membaca. Puisi memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk menemukan makna melalui penafsiran.

Pandangan lain datang dari Andi Marliah yang menyoroti pentingnya proses kurasi dalam penerbitan antologi. Menurutnya, apabila setiap penulis mengirim lima puisi, seorang kurator dapat memilih karya yang benar-benar memenuhi pertimbangan kepuitisan. Dengan demikian, antologi tidak sekadar menjadi kumpulan karya, tetapi juga memiliki standar kualitas yang lebih terjaga.

BACA JUGA:  SORAYA: MENIKAHKAN PENGALAMAN, PEMIKIRAN, DAN KEHIDUPAN

‘Selayar Berlayar’ bukan hanya sebuah judul antologi, tetapi metafora perjalanan kepenyairan, berlayar mencari pengalaman, mengolahnya menjadi kata, dan terus bergerak menjadi puisi yang lebih matang.Di sela-sela pembahasan, suasana sastra semakin hidup dengan pembacaan puisi oleh dua peserta, yaitu Dr. Fadli Andi Natsif dan Andi Rosnawatih.