News  

Semut Hitam di atas Batu

[Mutiara Jumat, 12 rabiul awal 1448 H]

Oleh Aslam Katutu

-Nasehat untuk diri sendiri, sobat penulis dan para konten creator di bidang dakwah-

Makassar, NusantaraInsight — Ada penyakit hati yang sering kali tidak terdengar suaranya, tetapi diam-diam dapat merusak nilai sebuah amal. Ia tidak selalu tampak dalam bentuk perbuatan yang buruk. Bahkan, terkadang ia bersembunyi di balik ibadah, kebaikan, sedekah, ilmu, perjuangan, bahkan kata-kata yang tampaknya sangat religius. Penyakit itu adalah riya’.

Riya’ adalah melakukan suatu amal dengan tujuan agar manusia melihat, mengetahui, memuji, atau memberikan penghargaan. Secara lahiriah, seseorang mungkin sedang berbuat baik. Namun, di dalam ruang tersembunyi hatinya, ada keinginan untuk mendapatkan pengakuan manusia.

Di sinilah bahayanya.

Amal yang semestinya menjadi jalan menuju Allah dapat berubah menjadi sarana mencari perhatian manusia. Yang dicari bukan lagi semata-mata ridha Allah, melainkan tepuk tangan, pujian, pengakuan, status sosial, atau validasi dari lingkungan.

Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas:

“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya’.”

BACA JUGA:  Maraknya Pencurian di Masjid: Ancaman Terhadap Keamanan dan Keyakinan Umat

(QS. Al-Ma’un: 4–6)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa persoalan riya’ bukan perkara kecil. Bahkan ibadah yang sangat utama seperti salat pun dapat kehilangan nilai spiritualnya ketika hati menjadikannya sebagai pertunjukan di hadapan manusia.

 

Ketika Hati Sulit Menjaga Rahasia Amal

Menjaga hati dari riya’ bukan perkara mudah. Manusia secara alami membutuhkan pengakuan sosial. Dalam ilmu psikologi, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima, dihargai, dan dianggap bernilai oleh kelompoknya. Pengakuan sosial dapat memberikan rasa senang dan meningkatkan kepercayaan diri.

Persoalannya muncul ketika kebutuhan tersebut mengambil alih orientasi hidup.

Seseorang mulai merasa gelisah apabila kebaikannya tidak diketahui. Ia merasa kurang puas jika sedekahnya tidak dipuji. Ia kecewa ketika perjuangannya tidak mendapatkan penghargaan. Ia bahkan dapat membandingkan dirinya dengan orang lain berdasarkan seberapa banyak manusia memberikan apresiasi kepadanya.

Pada tahap tertentu, hati menjadi seperti semut hitam di atas baatu warna hitam di tengah kegelapan malam . Sulit terlihat oleh orang lain, tetapi sangat jelas bagi Allah yang mengetahui setiap gerak batin manusia.

BACA JUGA:  Ketum AAI Sulsel Sampaikan Materi Pentingnya Tertib Arsip Pengelolaan Dana Bos di Palopo

Riya’ memang sering tidak terlihat oleh mata manusia karena tempat persembunyiannya adalah hati.

Seseorang bisa tersenyum ketika dipuji, tetapi hanya Allah yang mengetahui apakah senyum itu lahir dari rasa syukur atau dari kebanggaan terhadap dirinya sendiri.