News  

Semut Hitam di atas Batu

Karena itu, perjuangan melawan riya’ sesungguhnya merupakan perjuangan yang sangat pribadi. Tidak ada kamera yang dapat merekamnya. Tidak ada manusia yang mampu memberikan penilaian secara sempurna. Hanya diri sendiri dan Allah yang mengetahui apa yang sebenarnya sedang dicari oleh hati.

 

Mencari Validasi Manusia

Di zaman media sosial, bagi saya pribadi, para sobat penulis atau pelaku konten di media sosial, godaan riya’ memperoleh ruang yang jauh lebih luas. Sebuah kebaikan dapat dengan mudah diabadikan, dibagikan, diberi tanda suka, dikomentari, kemudian tersebar kepada ribuan orang.

Tidak semua publikasi kebaikan berarti riya’. Ada amal yang memang perlu diketahui agar menjadi inspirasi atau mengajak orang lain melakukan kebajikan. Namun, batas antara berbagi inspirasi dan mencari pengakuan terkadang sangat tipis.

Pertanyaan terpenting bukan sekadar, “Apakah orang lain melihat amal saya?”

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

“Apa yang terjadi dalam hati saya ketika tidak ada seorang pun yang melihat?”

Jika seseorang tetap berbuat baik ketika tidak mendapatkan pujian, tetap bersedekah ketika tidak ada yang mengetahui, tetap membantu ketika namanya tidak disebut, dan tetap beribadah ketika tidak ada manusia yang menyaksikan, maka di situlah keikhlasan mulai menemukan tempatnya.

BACA JUGA:  Munafri–Aliyah Kompak Dampingi KSP Tinjau Dapur MBG di Makassar

Allah tidak membutuhkan perhatian manusia untuk memberikan rahmat-Nya.

Kita justru membutuhkan rahmat Allah untuk menjalani kehidupan.

Maka sungguh merugi apabila manusia sibuk mengundang perhatian sesama, tetapi lupa mengetuk pintu rahmat Tuhan.

Riya’ dan Kesombongan

Riya’ juga dapat menjadi pintu menuju kesombongan. Dua hal yang beti (beda tipis) alias sebelas duabelas.

Ketika seseorang terlalu sering mendapatkan pujian, muncul risiko bahwa ia mulai mempercayai gambaran sempurna tentang dirinya yang dibentuk oleh penilaian manusia. Ia merasa lebih baik, lebih saleh, lebih pintar, lebih berjasa, atau lebih pantas dihormati daripada orang lain.

Di sinilah riya’ dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berbahaya: ujub dan takabur.

Kisah Iblis memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak. Ia merasa dirinya lebih tinggi karena diciptakan dari api, sementara Adam berasal dari tanah.

Masalah Iblis bukan karena ia tidak mengetahui keberadaan Allah. Ia bahkan mengakui Allah sebagai Tuhan. Kehancurannya terjadi karena kesombongan yang membuat dirinya menempatkan ego di atas perintah Allah.

BACA JUGA:  Mantan Bupati Tana Toraja Ir. Nicodemus Biringkanae Tutup Usia

Karena itu, orang yang menjaga amalnya dari riya’ harus berhati-hati terhadap munculnya perasaan, “Aku lebih baik daripada mereka.”