Kalimat semacam itu sangat berbahaya bagi perjalanan ruhani.
Sebab, kita tidak pernah mengetahui bagaimana akhir kehidupan seseorang. Orang yang hari ini terlihat jauh dari Allah bisa saja esok menjadi hamba yang sangat dekat dengan-Nya. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya sudah saleh dapat tergelincir karena kesombongan yang tidak disadarinya.
Ilmu Pengetahuan dan Bahaya Pujian
Secara ilmiah, pujian dan penghargaan sosial dapat mengaktifkan sistem penghargaan di dalam otak. Pengalaman mendapatkan apresiasi dapat memperkuat perilaku tertentu sehingga seseorang terdorong mengulanginya.
Mekanisme ini pada dasarnya tidak selalu buruk. Penghargaan dapat membantu seseorang mempertahankan perilaku positif.
Namun, jika motivasi eksternal menjadi pusat kehidupan, seseorang dapat kehilangan kemampuan menikmati kebaikan karena nilai perbuatannya bergantung pada respons orang lain.
Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?”
Ia mulai bertanya, “Apakah orang akan menyukai saya jika saya melakukan ini?”
Inilah perubahan orientasi yang perlu diwaspadai.
Dalam perspektif Islam, sumber nilai tertinggi bukanlah penilaian manusia, melainkan penilaian Allah. Manusia dapat salah menilai, sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada.
Bagaimana Menjaga Hati dari Riya’?
Pertama, perbanyak amal yang tidak diketahui manusia.
Sedekah secara diam-diam, salat malam ketika rumah telah sunyi, doa yang hanya diketahui Allah, membantu seseorang tanpa menyebut nama, atau memaafkan dan mendoakan orang tanpa mengumumkannya. Amal tersembunyi melatih hati menikmati kedekatan dengan Allah tanpa membutuhkan penonton.
Kedua, periksa niat sebelum, ketika, dan setelah beramal.
Riya’ tidak selalu muncul sebelum amal. Kadang ia datang setelah amal dilakukan. Seseorang mungkin awalnya ikhlas, kemudian merasa senang ketika dipuji. Saat itulah hati perlu segera dikembalikan kepada Allah. Seorang penulis, awal menulis konten dakwah awal ikhlas, namun kebablasan hatinya mulai condong mencari pengakuan dan penghargaan orang lain.
Ketiga, jangan terlalu bergantung pada penilaian manusia.
Pujian manusia bersifat sementara. Hari ini seseorang dipuji, besok dapat dilupakan. Popularitas berubah, pendapat manusia bergeser, tetapi penilaian Allah tidak pernah berubah karena tren.
Keempat, ingat bahwa semua kemampuan berasal dari Allah.
Jika seseorang mampu bersedekah, itu karena Allah memberinya rezeki. Jika mampu beribadah, itu karena Allah memberinya kekuatan. Jika memiliki ilmu, itu karena Allah membuka jalan untuk belajar. Bahkan kesempatan melakukan kebaikan pun merupakan karunia.












