Dengan kesadaran tersebut, ruang bagi kesombongan menjadi semakin sempit.
Kelima, perbanyak doa agar Allah membersihkan hati.
Rasulullah mengajarkan doa:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas sesuatu yang tidak aku ketahui.”
Bacaan untuk syirik kecil (lindung dari riya) yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk memohon ampunan dari perbuatan syirik yang disadari maupun tidak disadari.
Doa ini mengajarkan kerendahan hati. Kita bahkan harus meminta perlindungan dari kesalahan yang tidak kita sadari.
Pada akhirnya, melawan riya’ bukan berarti berhenti berbuat baik hanya karena takut dipuji. Jangan sampai ketakutan terhadap riya’ justru membuat seseorang meninggalkan amal.
Teruslah berbuat baik.
Tetapi belajarlah untuk tidak membutuhkan manusia sebagai alasan utama untuk berbuat baik.
Jika dipuji, kembalikan pujian itu kepada Allah. Jika tidak dihargai, jangan berhenti. Jika kebaikanmu dilupakan, jangan kecewa. Sebab, manusia mungkin lupa, tetapi Allah tidak pernah lalai.
Barangkali tidak ada seorang pun yang mengetahui air mata yang jatuh dalam sujudmu. Tidak ada yang mengetahui doa yang kau bisikkan dalam kesunyian. Tidak ada yang mengetahui perjuanganmu melawan ego dan kesombongan.
Biarlah demikian.
Sebab, ada keindahan yang hanya dapat dirasakan ketika seorang hamba menyadari bahwa tidak perlu seluruh dunia mengetahui kebaikannya, selama Allah mengetahuinya.
Itulah kemerdekaan hati.
Bukan hidup tanpa perhatian manusia, melainkan tidak lagi menggantungkan nilai diri kepada perhatian manusia.
Ketika hati telah sampai pada keadaan itu, amal menjadi lebih tenang, ibadah menjadi lebih jujur, dan langkah kehidupan terasa lebih ringan.
Kita tidak lagi sibuk menjadi seseorang di mata manusia.
Kita mulai belajar menjadi hamba di hadapan Allah.
Wallahu a’alm bishowab.












