Tawaran Solusi Inovatif untuk Banjir Makassar: Junardin Djamaluddin Raih Gelar Doktor Ilmu Lingkungan Unhas dengan Capaian Sempurna

Makassar, NusantaraInsight – Isu banjir perkotaan yang kerap melanda Kota Makassar kini mendapatkan tawaran solusi strategis yang inovatif dan terintegrasi. Ir. Junardin Djamaluddin, S.P., M.Si., IALI., IPM., seorang akademisi dan arsitek lanskap profesional, resmi menyandang gelar Doktor di bidang Ilmu-Ilmu Lingkungan setelah berhasil mempertahankan disertasinya dengan capaian sempurna IPK 4.0 pada Ujian Akhir Disertasi di Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas), Senin (24/8) pagi.

Bertempat di Ruang Smart Class Sekolah Pascasarjana Unhas, sidang bergengsi ini dipimpin langsung oleh Wakil Dekan 2 Sekolah Pascasarjana Unhas, Dr. Ir. Syahriadi Kadir, M.Si. Bertindak sebagai Promotor adalah Prof. Dr. Ir. Hazairin Zubair, MS., didampingi oleh Ko-Promotor Dr. Tigin Dariati, SP., M.ES.

Kualitas penelitian ini diuji dengan sangat ketat oleh dewan penguji yang terdiri dari pakar terkemuka, yakni Penguji Eksternal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ar. Firmansyah, ST., MT., IALI., IAI., serta tim penguji internal yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Eymal Bashar Demmalino, M.Si. (Ketua Prodi S3 Ilmu Lingkungan Unhas), Prof. Dr. Samsu Arif, M.Si., dan Ir. Hari Iswoyo, SP., MA., Ph.D.

BACA JUGA:  Universitas Brawijaya Gelar Pelatihan dan Sarasehan Ternak Kambing Domba

Paradigma Baru: Dari Drainase Beton ke Lanskap Adaptif

Disertasi yang dipertahankan berjudul “Pengembangan Lanskap Perkotaan Berbasis Mitigasi Bencana Banjir di Kota Makassar”. Melalui riset mendalamnya, Dr. Junardin mendiagnosis bahwa banjir di Makassar bukan sekadar masalah intensitas hujan yang tinggi, melainkan konsekuensi dari ketidaksesuaian struktur ruang kota di mana kapasitas resapan lanskap terus tergerus oleh masifnya permukaan kedap air. Selama ini, penanganan banjir seringkali hanya bertumpu pada infrastruktur abu-abu (grey infrastructure) seperti pembetonan saluran drainase teknis yang sifatnya sektoral. Dr. Junardin menawarkan pergeseran paradigma yang radikal namun sangat aplikatif: mengembalikan fungsi lanskap perkotaan sebagai infrastruktur ekologis adaptif yang mampu mengatur siklus hidrologi secara alami.

Blueprint Infrastruktur Hijau-Biru untuk Ketahanan Kota

Kontribusi dan kebaruan utama (novelty) dari disertasi ini terletak pada perumusan Blueprint Perencanaan Lanskap Kota Makassar yang mengintegrasikan Infrastruktur Hijau-Biru (Green-Blue Infrastructure / GBI). Penelitian ini berhasil memetakan dan mengonversi elemen-elemen ruang di Makassar ke dalam struktur sistemik yang disebut Hub-Koridor-Node.

Dalam cetak biru tersebut, sistem sungai dan kanal difungsikan sebagai Koridor aliran; ruang terbuka hijau (RTH) dan kawasan rawa difungsikan sebagai Node untuk titik infiltrasi dan retensi; sementara waduk—seperti Waduk Tunggu Pampang—dan danau dioptimalkan sebagai Hub atau pusat tampungan air utama pada skala kota.