Oleh : Anwar Nasyaruddin (Apresiator Sastra)
Makassar, NusantaraInsight — Mungkin saja ada yang bertanya, untuk apa saya memilih puisi ini untuk mengapresiasinya? Jawabannya, pertama, penulisnya Rahman Rumaday adalah seorang penggiat literasi, kedua penulis lebih fokus menulis karya karya narasi dan paparan. Ada beberapa bukunya telah diterbitkan. Kemudian, ada pertanyaan, mengapa ia tiba-tiba menulis puisi ‘Jiwa’ ini dalam suasana batin ketika mengarungi laut antara Kota Makassar dan Pulau Balang Lompo Kab. Pangkep, dan itu terjadi sekitar empat tahun lalu. Mungkin bagi orang lain, biasa saja, tetapi bagi saya suasana batin itu yang menarik dan patut direnungkan dengan mengapresiasi puisi ‘Jiwa’ ini.
Mari kita menikmati puisi berjudul ‘ Jiwaku’ tersebut:
JIWAKU
saat jiwa berselimut keraguan
seutas zikir penguat jiwa
dalam terpaan suara bising mulut alam
bersahut suara si mulut manusia besi
diantara selat pelabuhan Paotere
dan Pulau Balang Lompo
ku percaya kau datang dengan harapan
menghapus badai keraguan menghantam jiwa
hadir-Mu membawa damai juga kekuatan
hai jiwaku berteduhlah dibawa naungan kebesaran-Nya
ku yakin aku tak sendiri
Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub
Rahman Rumaday
Selat pulau balang lompo, 2/12/22
Dalam pemikiran saya untuk satu ruang dan waktu, memahami sebuah puisi, entah itu menarik atau tidak, bukan pada tema bukan pula pada bait atau diksi yang dibangun, tapi bagaimana suasana rasa penulisnya ketika menulis puisi. Kita tidak selalu bisa mengetahui persis perasaan penulis ketika menulis, kita hanya bisa mengetahui melalui jejak teks yang ditinggalkan.
Puisi biasa lahir berawal dari rasa. Penulis bisa menulis karena sedang mengalami, atau menghayati sesuatu, bisa dalam bentuk rindu, gelisah, kagum, marah, kehilangan atau perenungan. Namun rasa itu belum tentu bisa langsung jadi puisi, tapi mengendap terlebih dahulu dalam batin penulis.
Nah, dengan membaca tiga bait puisi ‘Jiwa’ ini, dengan pemilihan diksi yang dibangun, tentunya saya memilih untuk melihat nya dari sisi semiotika religius. Istilah semiotika religius, bukanlah suatu teori sastra, melainkan saya sengaja menggunakannya khusus untuk mengapresiasi puisi ‘Jiwa’ karena melihat tanda tanda atau metafora yang digunakan sebagai pengalaman, sikap, nilai dan dimensi religius penulis.
saat jiwa berselimut keraguan
seutas zikir penguat jiwa
dalam terpaan suara bising mulut alam
bersahut suara si mulut manusia besi
diantara selat pelabuhan Paotere
dan Pulau Balang Lompo
Di bait pertama ini, menurut tafsir saya, frasa ‘seutas zikir’, sebagai metafora untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Bisa saja saat itu penulis yang meninggalkan Kota Makassar menuju Pulau Balang Lompo dan sudah berada dalam perjalanan mengalami keraguan, karena ombak besar. Seutas zikir sebagai penguat jiwa, bahwa kalau berserah diri kepada Yang Maha Kuasa, keraguan itu akan hilang digantikan rasa percaya diri.












