Catatan Sastra, Puisi ‘Jiwa’ Rahman Rumaday: BERZIKIRLAH

Dan menurut saya, bagian yang paling kuat justru pada kata “berteduhlah”. Ada kelembutan di sana. Penulis tidak menggunakan kata “berjuanglah” atau “lawanlah”, tetapi memilih diksi “berteduhlah.” Secara psikologi religius, menandakan penulis mempunyai jiwa yang kasih lembut dan selalu berserah diri kepada Yang Maha Kasih.

Puisi ditutup dengan kutipan penggalan Surah Ar Ra’d ayat 28 “Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub” merupakan penegasan spiritual terhadap metafora sebelumnya. Zikir menjadi jalan menuju ketenteraman hati. Di dalam struktur bait, ayat ini bukan sekadar kutipan religius, ia berfungsi seperti kunci yang membuka makna seluruh bait, bahwa setelah perjalanan panjang, penyelesaian kegelisahan bukan selalu dengan melawan dunia, melainkan menemukan tempat dengan berserah kepada Yang Maha Besar. Allahu Akbar.

BACA JUGA:  The Magic, Buku Ketika Menjadi Mantra Karya Rahman Rumaday