Catatan Sastra, Puisi ‘Jiwa’ Rahman Rumaday: BERZIKIRLAH

Lantas yang menjadi pertanyaan saya, mengapa penulis memilih frasa ‘seutas zikir’ sebagai metafora pembersih keraguan. Bukan, memilih diksi lain seperti ‘segunung zikir,’ atau ‘selaut zikir’. Karena secara harfiah, zikir bukan sesuatu yang berbentuk benang atau tali, melainkan sesuatu yang abstrak, bisa dirasa tapi tidak bisa diraba.

Karena itu, kata ‘seutas’ sengaja dipilih penulis menjadi simbol sesuatu yang dapat dipegang. Dalam tradisi religius, maknanya bisa dibaca sebagai tali pengingat kepada Allah, ketika jiwa dilanda keraguan, dan sebagai pegangan kecil tetapi kuat di tengah badai batin. Penulis juga memilih kata, ‘Seutas’, juga memberi kesan kesederhanaan. Ada kerendahan hati di sana. Kadang manusia tidak membutuhkan sesuatu yang besar untuk bertahan. Satu zikir yang tulus dapat menjadi pegangan bagi jiwa yang sedang rapuh.

Di bait kedua, penulis menulis,
ku percaya Kau datang dengan harapan
menghapus badai keraguan menghantam jiwa

Kata ‘Kau datang’ mengandung makna, sebagai kehadiran spiritual. Allah tentu tidak datang dalam pengertian berpindah tempat seperti manusia. Dalam bahasa puitik-religius, datang berarti kesadaran kehadiran-Nya mulai dirasakan yang sebelumnya diliputi keraguan.

BACA JUGA:  Menarik, FGD Gerakan Pembelajaran Budaya Bugis di Sulsel, Ajiep Padindang Sebut Sekolah Budaya Bugis

Perubahan batin ini terjadi, dari ragu menjadi yakin, dari gelisah menjadi tenteram. Karena itu kata ‘datang’ ini juga dapat dibaca sebagai hadirnya cahaya setelah batin mengalami kegelapan.

hadir-Mu membawa damai juga kekuatan
hai jiwaku berteduhlah dibawa naungan kebesaran-Nya
ku yakin aku tak sendiri
Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub

Bait terakhir ini menarik karena metafora religiusnya bergerak dari kegelisahan menuju ketenteraman dengan hadirnya Allah. Kata ‘hadir-Mu’ bukan sekadar kehadiran secara fisik., melainkan metafora bagi kehadiran Ilahi dalam kesadaran batin. ‘Damai’ menggambarkan ketenteraman hati, sedangkan ‘kekuatan’ menggambarkan daya batin untuk menghadapi kehidupan.

‘Hai jiwaku berteduhlah di bawah naungan kebesaran-Nya’. Ini metafora yang sangat kuat.
‘Jiwa berteduh’ tentu bukan berteduh seperti seseorang berlindung dari hujan. ‘Berteduh’ menjadi simbol berserah, berlindung, dan mencari ketenteraman kepada Allah.
Sementara ‘naungan kebesaran-Nya’ merupakan metafora tentang kekuasan Allah SWT.

‘Ku yakin aku tak sendiri’. Kalimat ini merupakan metafora psikologis-religius. ‘Tak sendiri’ bukan berarti selalu ada manusia di sekitar kita. Maknanya lebih dalam, manusia merasa ditemani oleh kehadiran Tuhan, bahkan ketika secara lahiriah ia berada dalam kesunyian.
Kesendirian fisik tidak identik dengan kesendirian spiritual. Ini menjadi titik balik dari gelisah menuju percaya.