Catatan Sastra, Puisi ‘Jiwa’ Rahman Rumaday: BERZIKIRLAH

Di bait kedua, penulis menulis,
ku percaya Kau datang dengan harapan
menghapus badai keraguan menghantam jiwa

Kata ‘Kau datang’ mengandung makna, sebagai kehadiran spiritual. Allah tentu tidak datang dalam pengertian berpindah tempat seperti manusia. Dalam bahasa puitik-religius, datang berarti kesadaran kehadiran-Nya mulai dirasakan yang sebelumnya diliputi keraguan.

Perubahan batin ini terjadi, dari ragu menjadi yakin, dari gelisah menjadi tenteram. Karena itu kata ‘datang’ ini juga dapat dibaca sebagai hadirnya cahaya setelah batin mengalami kegelapan.

hadir-Mu membawa damai juga kekuatan
hai jiwaku berteduhlah dibawa naungan kebesaran-Nya
ku yakin aku tak sendiri
Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub

Bait terakhir ini menarik karena metafora religiusnya bergerak dari kegelisahan menuju ketenteraman dengan hadirnya Allah. Kata ‘hadir-Mu’ bukan sekadar kehadiran secara fisik., melainkan metafora bagi kehadiran Ilahi dalam kesadaran batin. ‘Damai’ menggambarkan ketenteraman hati, sedangkan ‘kekuatan’ menggambarkan daya batin untuk menghadapi kehidupan.

‘Hai jiwaku berteduhlah di bawah naungan kebesaran-Nya’. Ini metafora yang sangat kuat.
‘Jiwa berteduh’ tentu bukan berteduh seperti seseorang berlindung dari hujan. ‘Berteduh’ menjadi simbol berserah, berlindung, dan mencari ketenteraman kepada Allah.
Sementara ‘naungan kebesaran-Nya’ merupakan metafora tentang kekuasan Allah SWT.

BACA JUGA:  Ishakim Larang Nafas Dikorupsi. Suradi Ingin Buat Buku 10.000 Halaman

‘Ku yakin aku tak sendiri’. Kalimat ini merupakan metafora psikologis-religius. ‘Tak sendiri’ bukan berarti selalu ada manusia di sekitar kita. Maknanya lebih dalam, manusia merasa ditemani oleh kehadiran Tuhan, bahkan ketika secara lahiriah ia berada dalam kesunyian.
Kesendirian fisik tidak identik dengan kesendirian spiritual. Ini menjadi titik balik dari gelisah menuju percaya.

Dan menurut saya, bagian yang paling kuat justru pada kata “berteduhlah”. Ada kelembutan di sana. Penulis tidak menggunakan kata “berjuanglah” atau “lawanlah”, tetapi memilih diksi “berteduhlah.” Secara psikologi religius, menandakan penulis mempunyai jiwa yang kasih lembut dan selalu berserah diri kepada Yang Maha Kasih.

Puisi ditutup dengan kutipan penggalan Surah Ar Ra’d ayat 28 “Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub” merupakan penegasan spiritual terhadap metafora sebelumnya. Zikir menjadi jalan menuju ketenteraman hati. Di dalam struktur bait, ayat ini bukan sekadar kutipan religius, ia berfungsi seperti kunci yang membuka makna seluruh bait, bahwa setelah perjalanan panjang, penyelesaian kegelisahan bukan selalu dengan melawan dunia, melainkan menemukan tempat dengan berserah kepada Yang Maha Besar. Allahu Akbar.