Berangkat

Catatan Hati (3): Mulyati.

Suara riuh anak ayam terdengar dari kandang.
Sama riuhnya dengan hati Wiah setelah mendengar tekad Ullah suaminya.
_”Kita pindah ke kabupaten lain, Wiah.”_

Bagi Wiah, tak ada pilihan lain.
Kecuali ikut.
Membawa serta dua orang anaknya… dua anak yang belum tahu apa-apa tentang arti dan perjalanan hidup.

br

Setelah makan malam, Pak Guru Ullah menyampaikan.
_”Wiah, siap-siap. Kemas barang dan pakaian seadanya. Keputusan ini tak bisa lagi dielakkan. Apalagi diundurkan.”_

Wiah pun berkemas.
Air matanya berlinang.
Ia membayangkan dirinya di sana.
Dengan dua anak. Dalam gelisah. Dalam resah.

Ia tak bisa berbuat apa-apa…
Selain kembali mengingat Allah.
Menyerahkan semuanya.
Memohon ridha-Nya.
Memohon kemudahan.
Memohon kesehatan untuk anak-anaknya.

Malam semakin larut. Persiapan selesai.
Wiah memandangi anak dan suaminya yang sudah tertidur pulas.
Tapi matanya sendiri tak bisa terpejam.
Ia teringat Ayah. Teringat Ibu.
Teringat keluarga jauh di sana.

Besok… ia akan meninggalkan kampung suaminya.

Wiah berwudhu. Lalu shalat.
_”Ya Allah… mudahkan perjalanan kami.
Jadikan tempat baru ini lebih baik untuk kami.”_

BACA JUGA:  MENULIS DENGAN PENA

Malam berlalu cepat.
Kokokan ayam terdengar dari kejauhan.
Wiah bangkit ke dapur. Menyiapkan sarapan dan bekal.

Suaminya berkata: _”Perjalanan kita tempuh seharian. Jalan kaki.
Tak ada penjual makan sepanjang jalan. Hanya jalan setapak. Tanpa perkampungan.”_

Setelah semua siap, Wiah membangunkan kedua bocahnya.
Ia membisikkan kalimat di telinga mereka:
_”Nak… kita akan pergi ke tempat yang jauh.
Kalian harus jadi anak baik ya. Kita akan selalu bersama.”_

Mereka pun pamit pada mertua dan keluarga suaminya.

Tiba-tiba Hajuddin berkata, suaranya bergetar:
_”Ibu… Hajuddin tidak mau pergi.
Hajuddin takut.
Hajuddin di sini saja. Bersama Nenek.”_
Lalu ia menangis.

Semua orang menatapnya.
Hajuddin lari bersembunyi di balik pintu.
Menangis tanpa suara. Ia tak ingin pergi.

Wiah menghampiri. Memeluk. Membujuk.
_”Tidak perlu takut Nak… ada Ayah, ada Ibu yang selalu jaga.”_
Tapi Hajuddin tetap bertahan.

Akhirnya Pak Guru Ullah tak sabar.
Ia datang, mengangkat tubuh kecil itu.

Dan mereka pun berangkat.
Dengan tangis Hajuddin yang tak ingin pergi.
Dengan isak Nenek dan Kakek yang tak kuasa menahan.
Hanya bisa memandang… anak cucunya pergi dalam gendongan dan di pundak ayahnya.
Sementara Mulya, diam dalam gendongan Wiah.

BACA JUGA:  Pulang sebagai Seni Diri

Matahari bersinar terang.
Wiah dan keluarga kecilnya melangkah keluar dari kampung halaman suaminya.
Menyongsong kehidupan yang lebih baik…
Bersama terbitnya matahari.

brbr
brbr
br