Air matanya terus meleleh.
Tiba-tiba Hajuddin bertanya, suaranya kecil:
_”Kenapa Ibu menangis? Ibu juga tidak ingin pergi ya?”_
Wiah cepat-cepat tersenyum.
Ia mengusap kepala anaknya.
_”Anakku… Ibu tidak menangis. Itu keringat Ibu.
Kita kan akan selalu bersama. Ke tempat yang lebih baik.
Di sana Hajuddin dan Adek Wiah bisa sekolah.
Jadi anak cerdas, anak sholeh dan sholehah… iya kan Nak?”_
Sambil memeluk kedua bocahnya dengan cinta setinggi langit.
SUMUR DI BAWAH POHON RINDANG
Wiah bangkit.
Matanya menyapu sekeliling. Berharap ada sumur.
Setidaknya untuk berwudhu. Untuk minum.
Dan benar… di kejauhan ia melihat pohon besar yang rindang.
Dalam hati ia bergumam: _”Sepertinya di situ ada sumur.”_
Ia izin pada suami dan kedua anaknya.
Lalu berjalan ke arah pohon itu.
Dan ternyata benar.
Di samping pohon itu ada sumur.
Wiah menoleh ke sekeliling. Mencari.
Dan alhamdulillah… ada timba.
Dengan tangan gemetar dan hati haru, ia menurunkan timba itu.
_”Ya Allah… masih ada air.
Untuk wudhu. Untuk makan siang kami.
Untuk bekal sampai di tujuan.”_
Setelah shalat Dhuhur dan Ashar yang dijamak,
mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Walau panas semakin terik.
Walau tubuh semakin letih.
Pak Guru Ullah terus memberi semangat:
_”Kita harus sampai di kampung itu sebelum Magrib, Wiah.”_
BATAS KAMPUNG DAN DOA.
Dengan lelah yang ditahan, akhirnya mereka sampai.
Di batas kampung yang akan mereka tuju.
Matahari sore kuning keemasan menyambut mereka.
Seakan berbisik: _”Selamat datang.
Semoga harapanmu di sini terwujud.”_
Pak Guru Ullah berhenti sejenak.
Ia menatap istrinya dalam-dalam.
_”Wiah… kita akan memasuki kampung ini.
Berdoalah.
Semoga di kampung ini, di daerah ini,
kehidupan kita lebih baik.
Kita semua sehat dan bahagia.
Semoga anak-anak kita tumbuh dewasa,
menjadi anak yang berbakti.
Bukan hanya pada kita orangtuanya…
tapi juga pada agama, nusa, dan bangsa.”_
Wiah duduk di pinggir jalan.
Di batas kampung itu.
Ia menggandeng kedua tangannya.
Mengajak Hajuddin dan Mulya mengangkat tangan juga.
Mengikuti setiap lantunan doa yang keluar dari lisannya.
Air matanya jatuh. Tapi kali ini bukan karena takut.
Tapi karena berharap.
RUMAH PERTAMA.
Setelah berdoa, mereka berjalan menuju rumah Kepala Kampung.
Untuk melaporkan kedatangan mereka.
Dan subhanallah…
Mereka diterima dengan sangat baik. Sangat ramah.
Keluarga Kepala Kampung mengajak mereka shalat berjamaah.
Menjamu makan malam.
Mengobrol ringan sambil menunggu Isya.
Malam itu, di atas sajadah,
Wiah bersujud lama.
Sujud syukur yang tak henti-hentinya.
_”Ya Allah… terima kasih.
Telah mengantarkan kami sampai dengan selamat.
Telah mempertemukan kami dengan orang-orang baik.”_
—












