Peran Sentral Orang Tua Cegah Paparan Paham Radikal pada Anak

Sentral

Jakarta | NusantaraInsight  —  Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Meity Rahmatia kembali mengingatkan posisi sentral peran orang tua dalam pendidikan anak.

Hal itu ia sampaikan saat dimintai tanggapan oleh awak media atas temuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme tentang 112 siswa yang terpapar paham radikal dari media sosial dan game online, Selasa 02/06.

Menurutnya, perilaku anak di antaranya sangat ditentukan oleh sistem pendidikan dan pola asuh yang didesain oleh orang tua di rumah tangga.

Termasuk dalam penggunaan teknologi berbasis digital seperti gadget, aplikasi atau platform media sosial, bermain game online, dan lain-lain.

“Pembentukan karakter anak itu dimulai dari pola asuh, model-model pendekatan yang digunakan dalam mendidik anak di dalam rumah tangga. Termasuk pada aturan dan pengawasan penggunaan media sosial,” ungkapnya.

Dalam mencegah paparan paham radikal ini, orang tua, lanjut Meity, perlu memberikan preferensi dan literasi pada anak soal pemahaman-pemahaman moderat dalam beragama, lingkungan sosial yang ideal, dan komunitas-komunitas yang positif dalam pengembangan kapasitas diri atau soft skill.

BACA JUGA:  Putri Dakka : Di 2024 Akan Lahir Ayam Betina dari Luwu Raya

Namun, dalam memerankan fungsi orang tua seperti di atas, kata politisi dari Sulawesi Selatan itu, diperlukan kehadiran orang tua yang lebih intensif di dalam keluarga.

“Dalam artian, harus ada kedekatan emosional yang dalam lebih dulu antara anak dan orang tua. Ya, tidak selalu harus bersama secara fisik, tapi kehadiran sosok ibu dan bapak itu benar-benar dirasakan oleh anak. Kehadiran yang intensif itu dapat dibangun melalui komunikasi intensif, berikan perhatian yang cukup,” jelasnya.

Perhatian ini, terang Meity, tidak dimaksudkan pula untuk memanjakan anak, tapi sebagai bentuk perhatian yang sewajarnya. Bahkan menurutnya, dalam momen tertentu, orang tua mesti mampu memberikan tantangan bagi anaknya untuk menghadapi dan menyelesaikan masalahnya agar tumbuh sebagai anak yang memiliki tanggung jawab.

Persoalannya, ungkap sosok yang dikenal aktif di berbagai organisasi sosial itu, saat ini sebagian orang tua tampak disibukkan dengan aktivitasnya sehingga kadang abai memberikan perhatian pada anak. Ia tak menyalahkan realitas tersebut, karena menurutnya, kondisi setiap orang tua tentu berbeda.

BACA JUGA:  Webinar Nasional Qurban Syar’i dan Sehat di Takalar

“Tentu saja kondisi kita semua berbeda-beda. Tetapi tanggung jawab terhadap anak jangan pernah diabaikan. Berani melahirkan anak maka kita harus menerima konsekuensi dan bertanggung jawab memikirkan anak-anak kita agar hidup secara ideal di tengah-tengah masyarakat. Minimal tidak terlibat dalam tindakan kriminalitas atau pelanggaran hukum. Bagaimanapun paham radikal ini adalah tanggung jawab bersama yang dimulai dari pendidikan keluarga,” jelasnya.