Resensi Buku: Sosiologi Komunikasi: Gagasan Sembilan Tokoh Klasik Hingga Era Digital

Penulis : Dr Muhammad Yahya, M.Si dkk

Editor : Dr Rudi Hardi, M.Si & Dr Syukri, S,Sos, M.Si

Penerbit: EUREKA MEDIA AKSARA

ISBN : 978-634-271-523-9

Tahun : Maret 2026

Tebal : xi+295 Hal

 

NusantaraInsight, Makassar — Di tengah perubahan sosial yang semakin pesat, terutama berkembangnya media digital dan transformasi ruang public, pendekatan baru dalam memahami komunikasi sosial menjadi lebih relevan.

Buku Sosiologi Komunikasi: Gagasan Sembilan Tokoh Klasik Hingga Era Digital menawarkan pembacaan teoretis yang mendalam terhadap sosiologi komunikasi, dengan memberikan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana komunikasi berfungsi tidak hanya sebagai alat untuk menyampaikan pesan, tetapi sebagai elemen fundamental yang membentuk solidaritas, kekuasaan, identitas, dan kontrol sosial dalam masyarakat.

Sebuah karya kolektif buku chapter ini ditulis oleh akademisi berpengalaman, berusaha untuk menempatkan sosiologi komunikasi dalam kerangka sejarah pemikiran sosial yang panjang.

Melalui sembilan tokoh kunci yang merentang dari pemikiran klasik hingga pemikiran kontemporer, pembaca diundang untuk melihat evolusi teori komunikasi yang sangat relevan dengan dinamika dunia digital saat ini.

BACA JUGA:  IDULFITRI DAN PENGEMBANGAN DIRI.

Materi pada bab pertama tentang, Ibnu Khaldun: Solidaritas Sosial, Narasi, dan Legitimasi Kekuasaan, oleh: Dr. Muhammad Yahya, M.Si dosen Unismuh Makassar. Kedua, Émile Durkheim: Simbol, Ritual, dan Kesadaran Kolektif oleh: Dr. Ahdan Sinilele, S.Sos., M.Si (UMI Makassa).

Ketiga, Max Weber: Makna, Tindakan Sosial, dan Otoritas oleh: Dr. Asni Djamereng, M.Si (UIN Alauddin Makassar). Keempat, George Herbert Mead: Interaksi Simbolik dan Pembentukan Diri, oleh: Dr. Maemunah, S.Ag., M.Pd (Unismuh Makassar).

Kelima, sosok Erving Goffman: Dramaturgi, Presentasi Diri, dan Manajemen Kesan
oleh: Dr. I Ketut Yakobus, S.Th., M.Si, (UNKRIT). Keenam, tokoh Pierre Bourdieu: Bahasa, Simbol, dan Kekuasaan, oleh: Dr. Sudirman, M.Si (UPRI Makassar).

Ketujuh, Jürgen Habermas: Tindakan Komunikatif dan Ruang Publik, oleh: Dr. Ahmad Al Yakin, S.Ag., M.Pd (UNASMAN Sulbar).

Kedelapan, sosiolog Manuel Castells: Masyarakat Jaringan dan Kekuasaan Informasi
oleh: Dr. Adi Sumandiyar, S.Sos., M.Si (Universitas Sawerigading Makassar). Kesembilan, Shoshana Zuboff: Komunikasi, Data, dan Kapitalisme Pengawasan
oleh: Dr. Silahuddin Genda, S.IP., M.Si (Universitas Fajar Makassar).

BACA JUGA:  Kedai Kopi, Rekreasi, dan Diskusi Seni Budaya di Pelataran Sao Panrita

Buku ini tidak hanya menampilkan teori-teori komunikasi secara fragmentaris, tetapi membangun narasi koheren tentang perjalanan sosiologi komunikasi melalui berbagai dimensi sosial dan epistemologis.

Pembahasan dimulai dengan tokoh pertama, Ibnu Khaldun, yang memperkenalkan konsep ‘ashabiyyah’ sebagai dasar solidaritas sosial. Pemikiran Khaldun menjadi landasan penting untuk memahami hubungan antara komunikasi dan kekuasaan jauh sebelum sosiologi sebagai disiplin ilmu terbentuk.

Buku ini dengan tegas menegaskan bahwa komunikasi, dalam perspektif Khaldun, adalah prasyarat sosial untuk legitimasi kekuasaan dan tatanan sosial.

Selanjutnya, teori-teori komunikasi yang lebih modern, seperti yang diusung oleh Émile Durkheim dan Max Weber, dibahas untuk menunjukkan bagaimana komunikasi menjadi mekanisme integrasi sosial dalam masyarakat modern. Durkheim menekankan pentingnya simbol dan ritual dalam memperkuat kesadaran kolektif, sementara Weber mengaitkan komunikasi dengan legitimasi otoritas dan rasionalisasi birokrasi.

George Herbert Mead dan Erving Goffman membawa pembaca pada pemahaman mikro sosial di mana komunikasi memainkan peran dalam pembentukan identitas dan interaksi sosial sehari-hari.