Menjaga Marwah Adat, Menegakkan Suara Profetis: Catatan untuk Gereja Toraja

Dr. Kristian H.P Lambe M.M., M.Si bersama Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc

Nusantarainsight.com, Makassar – [OPINI]

Oleh: Dr. Kristian H. P. Lambe (Dosen UKI Paulus dan Dewan Pakar PIKI Sulsel)

Sikap tegas Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja (BPS-GT) dalam menolak praktik perjudian yang menunggangi tradisi Ma’pasilaga Tedong layak kita dukung sepenuhnya. Ini bukan sekadar penolakan administratif, melainkan manifestasi nyata dari peran Gereja sebagai kompas moral yang mengarahkan umat kembali pada ketaatan hukum duniawi dan hukum ilahi.

Saya secara konsisten berpendapat bahwa Ma’pasilaga Tedong adalah warisan budaya yang berharga. Namun, ketika arena tradisi berubah menjadi arena judi, esensi luhur budaya tersebut runtuh dan digantikan oleh dekadensi moral.

Ketegasan BPS-GT dan Tanggung Jawab Aparat

Konsistensi BPS-GT harus dibarengi dengan tindakan proaktif dari pihak Kepolisian (Polri). Kita perlu mendorong standarisasi pelaksanaan tradisi: dalam upacara Rambu Solo’, adu kerbau semestinya terbatas hanya untuk kerbau milik keluarga yang berduka. Membawa kerbau dari luar sering kali menjadi celah bagi bandar judi untuk masuk.

Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Jika praktik judi tetap difasilitasi di dalam arena, penyelenggara atau keluarga yang berduka harus siap menanggung konsekuensi hukum sebagai pihak yang memfasilitasi tindak pidana perjudian.

BACA JUGA:  Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Pudji Hartanto Iskandar dan Buku "Kenapa Makassar?"

Berani Tidak Populer demi Kebenaran

Langkah profetik yang diambil Gereja Toraja saat ini mencerminkan keberanian moral yang luar biasa. Meski menyadari adanya risiko sosial dan politik, Gereja memilih jalan berliku demi menyelamatkan umat. Dalam kacamata Teologi Reformasi dan Sosiologi Agama, langkah ini memenuhi lima fungsi esensial:

  • Pernyataan Kebenaran: Gereja hadir untuk meluruskan penyimpangan moral melalui otoritas Firman Tuhan.

  • Perisai Keadilan: Melindungi masyarakat, terutama kelompok ekonomi rentan, dari jeratan judi, narkotika, dan patologi sosial lainnya.

  • Kritik Terhadap Otoritas: Menantang pembiaran oleh otoritas lokal terhadap “penyakit masyarakat”, mengikuti jejak profetik Nabi Yesaya yang menentang korupsi sistemik.

  • Garam dan Terang: Menjaga kemurnian nilai di tengah masyarakat dan memandu proses pertobatan kolektif.

  • Visi Shalom: Mengintegrasikan adat Toraja dengan kemurnian iman untuk mewujudkan transformasi sosial yang utuh.

Penutup

Langkah BPS-GT adalah upaya revitalisasi budaya melalui lensa keimanan. Ini bukan sekadar menjaga tradisi agar tidak hilang, melainkan memastikan tradisi tetap suci dari polusi moral. Sebuah kontribusi penting bagi pembangunan karakter masyarakat Toraja yang bermartabat.

BACA JUGA:  VDB Ditemui Tokoh Agama Pdt. Musa Salusu, Ini yang Dibahas

Tuhan memberkati kita semua. Amin.