Bunuhlah Yahudi Dulu

NusantaraInsight, Makassar — Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, 28 Februari 2026 menewaskan Pemimpin Islam Iran Ali Khamenei bersama beberapa orang lainnya. Setelah aksi penyerangan AS dan Israel itu berlangsung, kini timbul pertanyaan. Bagaimana nasib “Board of Peace” (BoP) — Dewan Perdamaian yang dibentuk dan ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Davos, Swiss, 22 Januari 2026.

BoP adalah badan internasional beranggotakan 22 negara yang dibentuk oleh Trump untuk memimpin upaya perdamaian, stabilisasi, dan rekonstruksi pascakonflik. Badan ini dibentuk Trump di luar mekanisme PBB dan beranggotakan di antaranya Indonesia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UAE), Qatar, dan Turki.

Trump menempatkan BoP ini bagaikan Dewan Keamanan (DK) PBB dan dia diposisikan sebagai anggota sampai dia mati alias sumur hidup. Satu-satunya anggota yang memiliki hak veto seperti juga hak AS di DK PBB. Ironisnya, di tengah pembentukan BoP, Israel malah masih tetap menggempur Gaza, melanggar perdamaian yang disepakati 7 Oktober 2025.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (5): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Melihat posisi Indonesia dan keberengsekan AS-Israel yang menyerang Iran, banyak organisasi di Indonesia mendesak Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia menarik diri dari BoP. Suara itu di antaranya datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI).

Hari ini media ramai memberitakan Prabowo Subianto berniat menjadi penengah konflik AS-Israel dan Iran. DPR RI sudah mengeluarkan suara pesimis dengan mengatakan Iran akan menolak kehadiran Indonesia karena keanggotaannya di BoP itu. Jelas ini sangat mencederai perasaan bangsa Indonesia kalau betul-betul terjadi.

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia M.Jusuf Kalla (JK), menilai, niat Prabowo itu bagus, tetapi persoalan di Timur Tengah itu sangat rumit. Bagaimana mau mendamaikan AS-Israel dan Iran, merujukkan Israel dengan Palestina saja susah. Lagi pula, negara-negara Islam di Timur Tengah sedang tidak baik-baik saja.

“Ya niat, rencana itu baik saja. Tapi ini situasi jauh lebih besar masalahnya. Ya, Palestina dengan Israel tidak bisa, sulit didamaikan. Karena dunia ini sangat ditentukan oleh sifat dari Amerika,” kata JK dalam wawancara dengan wartawan di Jakarta, Minggu (1/3/2026).

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (4): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

JK juga menyinggung masalah perjanjian dagang antara AS-Indonesia sebagai perjanjian yang sangat merugikan Indonesia. Itu perjanjian tidak setara dan sangat tidak seimbang serta merugikan Indonesia.

Sebenarnya bukan Iran yang harus didekati karena negara itu menjadi korban penyerangan dua negara yang bersekutu, meskipun dia melakukan upaya membala diri dengan mengebom pangkalan AS di beberapa negara di kawasan Teluk dan menggempur Israel. Jika Prabowo hendak mendamaikan, justru AS yang harus didekati karena dialah yang menjadi sumber api konflik.