Hadirkan Ketua PGRI Makassar dan Akademisi UNM, HMP PAI Unismuh Makassar Gelar Bazar Dialog

NusantaraInsight, Makassar — Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (HMP PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar Bazar Dialog.

Pada Bazar Dialog yang digelar di Cafe Bundu, Rabu (4/2/2026) menghadirkan Ketua PGRI Kota Makassar Dr Pantja Nur Wahidin, S.Pd.,M.Pd dan juga Akademisi Universitas Negeri Makassar (UNM) Dr. Alimin Alwi, S.Sos., M.Pd

Acara yang dipandu oleh Ramdhani Saputra membuka diskusi dengan penyampaian data tentang kesejahteraan guru utamanya guru honorer di Indonesia yang jauh di bawah penghasilan normal.

Menjawab hal ini, Ketua PGRI Kota Makassar Dr Pantja Nur Wahidin menyampaikan bahwa miris mendengar penghasilan para guru di bawah UMR.

Ia juga menceritakan sekelumit kisah tentang dirinya untuk menyemangati para peserta Bazar Dialog 1991.

“Saya suka pelajaran matematika sehingga saya mendaftar di Unismuh.. Saya pilih matematika bukan mau jadi guru tetapi mau jadi matematikawan,” ungkapnya membuka kisah.

Ia juga menjelaskan tentang kesejahteraan guru itu bukan hanya dinilai dari kemampuan finansial.

BACA JUGA:  PGRI Jeneponto Kabupaten Kelima di Provinsi Sulsel Gelar Konferensi

Namun jika kita bicara ketentraman, lanjutnya, tentu bicara kebahagiaan itulah yang dapat dirasakan oleh kami sekeluarga yang kebetulan keluarga seorang guru.

Ia juga menyinggung tentang akhir lirik Himne Guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

“Karena jika menilik dari Founding Father kita sebagian besar itu adalah guru, kita tahu nama HOS Cokroaminoto, Ki Hadjar Dewantara, KH Ahmad Dahlan hingga Tan Malaka, semuanya itu seorang guru,” ucapnya.

“Mereka itu mendirikan sekolah motifnya bukan untuk finansial akan tetapi untuk pergerakan nasional demi kemerdekaan bangsa,” kata Pantja yang juga Ketua APKS PGRI Sulsel ini.

Ia juga berpesan kepada para mahasiswa agar jangan bercita-cita menjadi kaya jika ingin menjadi guru, akan tetapi lebih kepada pengabdian.

“Kalau anda ingin kaya jangan jadi guru, akan tetapi jadilah pengusaha jika mau kaya. Akan tetapi jika menjadi guru, kita dapat mentransfer ilmu, atau dalam bahasa agama adalah sedekah ilmu dan kita akan mendapat amal jariah,” ulasnya.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa agar dapat melatih diri sejak dini untuk menjadi guru profesional dengan berlatih public speaking, kemampuan menguasai materi dan kemampuan menguasai kelas.

BACA JUGA:  Mahasiswa Unhas Demonstrasi Pembuatan Pakan Silase dari Rumput Gajah dan PGPR di Desa Lamatti Riattang

“Karena guru adalah aktor, sutradara dan juga penulis skenario,” tandasnya.

Sementara itu, Dr. Alimin Alwi, S.Sos., M.Pd (Dosen Universitas Negeri Makassar) yang menjadi narasumber mengawali dengan menceritakan profil singkatnya di hadapan mahasiswa.