Membidik target
Persoalan kedua adalah target Sulsel pada PON XXII NTB-NTT. Merespon komentar rekan Nukhrawi Nawir di grup WA Pengprov Cabor Sulsel, saya setuju. Harus disertai data yang akurat dan disertai perhitungan ranking. Komentar ini boleh jadi karena Pengurus KONI Sulsel periode 2022-2026 berani mematok target lima besar yang terkesan ‘berani’ tanpa memperhitungkan apa yang disebut Nukhrawi. Saya menilai, target itu terlalu ambisius dan utopis tanpa menggeledah diri sendiri disertai berbagai dukungan nonteknis.
Sekarang, apakah KONI Sulsel masih tertarik mau pasang target 5 besar lagi?
Untuk penyemangat memang harus ada target. Kalau pun tidak tercapai, kita sudah berusaha. Namun sekadar informasi, NTB yang bakal menjadi tuan rumah PON XXII nanti, saat PON XXI di Aceh dan Sumut berada di peringkat ke-14 dengan 15 emas, 17 perak, dan 21 perunggu. Saat PON XX Papua, NTB di peringkat ke-9 dengan 15 emas, 11 perak, dan 12 perunggu. Dari jumlah medali emas, NTB konsisten.
Peringkat ke-15 Kalsel, 15 emas, 15 perak, 26 perunggu, Sulsel (ke-16) 10 emas, 19 perak, 32 perunggu. Di bawah kita menempel ketat provinsi se-pulau, Utara 10 emas, 14 perak, 18 perunggu (peringkat ke-17), Tengah 8 emas, 7 perak, dan 20 perunggu.
Nah, yang perlu diwaspadai NTT yang menjadi tuan rumah kembar dengan NTB. Pada PON XXI, daerah ini di peringkat ke-19 dengan 7 emas, 13 perak dan 16 perunggu. Sementara pada PON XX Papua, tetap konsisten pada peringkat ke-19 dengan masing-masing 5 emas, perak, dan perunggu (jumlah 15).
Pengalaman PON XX Papua provinsi tuan rumah selalu ngotot ingin berada pada urutan satu digit ketika menjadi tuan rumah. Kita lihat saja, Aceh yang di Papua berada di urutan ke-12 dengan 11 emas,7 perak, dan 11 perunggu di bawah Sulsel dan Sumut berada di peringkat ke-13 dengan 10 emas, 22 perak, dan 23 perunggu, saat menjadi tuan rumah? Sumut (dari peringkat ke-13 di Papua) melejit ke peringkat ke-4 saat menjadi tuan rumah dengan 79 emas, 59 perak, 116 perunggu. Lalu Aceh dari peringkat ke-12 meroket ke peringkat ke-6 dengan 65 emas, 48 perak, dan 79 perunggu saat menjadi tuan rumah?
Melihat grafik ini, di mana posisi Sulsel dengan ketiadaan stadion dan fasilitas olahraga yang kurang memadai dengan anggaran yang kembang kempis? Sementara nakhoda KONI Sulsel sudah sibuk dengan “gawean” barunya sebagai legislator. Kantor KONI Sulsel juga kian sepi? Kini, — kabarnya — pengurus hanya ‘ngantor’ kalau ada rapat.
Beberapa kali saya melintas di depannya, kantor tampak sepi pada siang hari. Apalagi pada malam hari. Memang serba salah juga, bagaimana aktivitas organisasi bisa jalan kalau komponen penunjang mobilitasnya tidak ada. Pada periode sebelumnya, lampu kantor tetap menyala hingga menjelang tengah malam. Itu tanda ada kegiatan. (*).