Saya menduga, pikiran beliau berubah menjadi tuan rumah PON karena melihat ada syarat harus menyetor uang jaminan sebesar Rp 1 miliar, yang memang berlaku bagi setiap daerah yang serius menjadi tuan rumah. Sekarang, uang jaminan itu membengkak, menjadi Rp 7 miliar. Saat itu Sulsel lagi viral soal utang sekian miliar.
Jika kita mau menjadi tuan rumah PON, yang perlu dipikirkan lebih dahulu adalah pembangunan stadion yang kelak menjadi lokasi pembukaan dan penutupan perhelatan olahraga empat tahunan ini. Semua juga maklum. Stadion Sudiang, Stadion Untia, dan Stadion Barombong yang disebut sahabat Bonay Syam, cukup membesarkan hati jika benar-benar terwujud.
Pengalaman, wacana pembangunan Stadion Mattoanging hanya buang-buang uang rakyat. Uang yang disediakan habis untuk desain arsitektur stadion yang kalau benar-benar terwujud, memang bisa membuat orang terbelalak mata melihatnya. Wacana pembangunan stadion tersebut telah berlalu. Lahan stadion sudah menjadi hutan yang kelak hanya menjadi tempat ular bersarang.
Pembangunan Stadion Sudiang terlanjur dan sempat menjadi komoditas politik. Presiden VII diberitakan akan melakukan “ground breaking” Stadion Sudiang saat lawatan terakhirnya. Ehh.. tiba-tiba batal tanpa sebab. Rakyat Sulsel tertipu. Saat Presiden Prabowo Subianto terpilih dan mengeluarkan kebijakan efisiensi, pembangunan Stadion Sudiang lenyap dari dari agenda Kementerian PUPR. Anehnya, kini muncul lagi. Mudah-mudahan benar-benar terwujud agar masyarakat Sulsel tidak terkecoh dua kali.
Soal tuan rumah satu PON (XXIII) ke depan, Sulsel sebaiknya mengubur mimpi dulu. Soalnya, Provinsi Banten dan Provinsi Lampung, sudah bersekutu menghelat PON XXIII. Keduanya sudah menekan nota kesepahaman dan kesepakatan. Tidak hanya itu, logo pun sudah tersebar dalam pemberitaan. Sulsel kalau masih berselera melamar menjadi tuan rumah boleh membidik PON XXIV/2036. Itu berarti sudah dua kali pergantian gubernur. Mudah-mudahan gubernurnya nanti memiliki minat memajukan olahraga daerah ini.
Membidik target
Persoalan kedua adalah target Sulsel pada PON XXII NTB-NTT. Merespon komentar rekan Nukhrawi Nawir di grup WA Pengprov Cabor Sulsel, saya setuju. Harus disertai data yang akurat dan disertai perhitungan ranking. Komentar ini boleh jadi karena Pengurus KONI Sulsel periode 2022-2026 berani mematok target lima besar yang terkesan ‘berani’ tanpa memperhitungkan apa yang disebut Nukhrawi. Saya menilai, target itu terlalu ambisius dan utopis tanpa menggeledah diri sendiri disertai berbagai dukungan nonteknis.
Sekarang, apakah KONI Sulsel masih tertarik mau pasang target 5 besar lagi?
Untuk penyemangat memang harus ada target. Kalau pun tidak tercapai, kita sudah berusaha. Namun sekadar informasi, NTB yang bakal menjadi tuan rumah PON XXII nanti, saat PON XXI di Aceh dan Sumut berada di peringkat ke-14 dengan 15 emas, 17 perak, dan 21 perunggu. Saat PON XX Papua, NTB di peringkat ke-9 dengan 15 emas, 11 perak, dan 12 perunggu. Dari jumlah medali emas, NTB konsisten.
Peringkat ke-15 Kalsel, 15 emas, 15 perak, 26 perunggu, Sulsel (ke-16) 10 emas, 19 perak, 32 perunggu. Di bawah kita menempel ketat provinsi se-pulau, Utara 10 emas, 14 perak, 18 perunggu (peringkat ke-17), Tengah 8 emas, 7 perak, dan 20 perunggu.
Nah, yang perlu diwaspadai NTT yang menjadi tuan rumah kembar dengan NTB. Pada PON XXI, daerah ini di peringkat ke-19 dengan 7 emas, 13 perak dan 16 perunggu. Sementara pada PON XX Papua, tetap konsisten pada peringkat ke-19 dengan masing-masing 5 emas, perak, dan perunggu (jumlah 15).












