Tudang Sipulung Balla Mangkasara akan Bahas Tari Rote Kupang NTT

Pulau Rote beriklim kering, dipengaruhi oleh angin muson, dengan musim kemarau yang lebih panjang (Mei-November) dan musim hujan yang lebih singkat.

Kehidupan masyarakat P. Rote mengembangkan budidaya Lontar yang merupakan pusat kehidupan masyarakat Rote, di mana nira disadap untuk dijadikan tuak atau gula, dan menjadi dasar ekonomi serta pemukiman awal.

Pulau Rote memiliki tradisi unik seperti ndai tasi (mencari ikan saat air surut) dan mao tua do lefe bafi (kehidupan cukup dari tuak dan babi).

Pulau Rote juga terkenal dengan alat musik Sasando, sebuah alat musik tradisional dari bambu dengan dawai.

Pakaian adat Rote yang terkenal sangat unik yang dilengkapi dengan topi Ti’i Langga, berbentuk kerucut dan sering dihiasi dengan kain tenun.

Masyarakat Rote memiliki struktur sosial dengan pemimpin spiritual (mane leo) dan pengurus urusan duniawi (leo fetor).

Selain itu, Rote memiliki banyak pantai indah dengan pasir putih dan air jernih, seperti Pantai Tiang Bendera yang menjadi lokasi populer untuk menyaksikan matahari terbenam.

BACA JUGA:  Kadis Perpustakaan Makassar Hadiri Launching Buku "Mimpi yang Tak Dianggap"