Perseteruan Arung Palakka dan Kompeni Diulas. Segera Terbit ! Novel Sejarah ‘Tanah Lange-Lange’

Kecurigaan Arung Palakka akhirnya menemukan jawabannya. Ia mengetahui bahwa Hartsink sendiri telah mengirim surat kepada Batavia dan meminta agar dibuat kebijakan baru yang membatasi dirinya serta para penguasa bawahannya dalam memanfaatkan tanah-tanah dan orang-orang Kompeni Belanda.

Arung Palakka merasa dikhianati.
Hubungan yang selama ini dibangun antara dirinya dan Kompeni Belanda tiba-tiba berada di ujung kehancuran. Bagi Arung Palakka, Hartsink bukan hanya pejabat Kompeni Belanda yang berbeda pendapat dengannya. Hartsink telah menjadi penghalang antara dirinya dan sekutu yang selama ini ia percaya.

br

Kemarahannya kemudian berubah menjadi tekanan politik. Arung Palakka meminta Gubernur Jenderal di Batavia mengganti Hartsink dari Fort Rotterdam. Ia bahkan mengancam tidak akan membantu Kompeni Belanda lagi di Sulawesi Selatan dan akan kembali ke singgasananya di Bone.

Ancaman tersebut bukan perkara kecil.
Tanpa bantuan Arung Palakka, Kompeni Belanda akan mengalami kesulitan berhubungan dengan banyak kerajaan kecil. Pemungutan pajak dan upeti mulai tersendat. Para penguasa bawahan lebih segan kepada Arung Palakka daripada kepada pejabat Kompeni Belanda. Perselisihan dua orang penguasa atasan itu akhirnya mulai dirasakan oleh masyarakat luas.

BACA JUGA:  Biskal Heny di Launching & Bincang Buku Mimpi yang Tak Dianggap

Batavia menyadari bahwa mempertahankan Hartsink dapat membuat kepentingan Kompeni Belanda di Sulawesi Selatan semakin terganggu.
Pada Oktober 1690, Hartsink akhirnya ditarik dari Fort Rotterdam dan ditempatkan di Batavia.
Namun keputusan itu belum menutup persoalan. Pada Juni 1691, Batavia mengirim tim investigasi yang dipimpin De Haas untuk menyelidiki lebih jauh perselisihan antara Arung Palakka dan Hartsink.

Pertanyaan pun kembali diarahkan kepada tanah kecil di tepi Teluk Bone itu. Apa yang sebenarnya terjadi di Lange-Lange? Apakah Arung Palakka telah melampaui batas? Apakah Hartsink sedang mempertahankan kewibawaan Kompeni Belanda? Ataukah Lange-Lange hanyalah pintu masuk menuju pertarungan yang lebih besar tentang siapa yang sesungguhnya menguasai Sulawesi Selatan?

Pada akhirnya, novel ini bukan hanya kisah tentang Arung Palakka dan Hartsink. Ini adalah kisah tentang tanah yang diperebutkan, kekuasaan yang berubah, kesetiaan yang diuji, dan manusia-manusia yang datang silih berganti untuk menguasai sebuah tanah yang tetap tinggal di tempatnya. Dan di tepi Teluk Bone, Lange-Lange menjadi saksi bahwa sejarah sering kali tidak ditentukan hanya oleh mereka yang memiliki kekuasaan, tetapi juga oleh siapa yang mampu membuat kekuasaannya dianggap sah oleh orang lain.

br
br